Hari pertamanya bekerja dengan Jovan terasa biasa saja. Tidak ada yang spesial, bahkan tidak menarik sama sekali. Dari pagi hingga siang benar-benar sangat datar. Kala hanya duduk, tidak ada pekerjaan yang berarti. Beberapa pengajuan proposal juga sudah di cek dan di tanda tangani. Waktu terasa berjalan sangat lamban.
Pesan singkat dari Jovan, cukup membuyarkan lamunannya. Wanita itu kini beranjak dari duduknya, merapikan rok serta blouse yang ia kenakan. Kala bercermin lewat pantulan layar ponsel sembari merapikan rambutnya. Kemudian ia pergi untuk menjemput makan siangnya yang berada di ruangan Jovan.
Kala membuka pintu setelah ia mengetuknya. Tatapan matanya tepat tertuju pada sosok lelaki yang tengah berada di belakang meja kerjanya dan sibuk memainkan ponselnya. Jovan hanya melirik sepintas, kemudian ia berdiri dan berjalan ke arah sofa yang tak jauh dari sana. Di atas meja sudah ada satu kantong plastik yang berisi beberapa menu makanan untuk Jovan dan Kala.
Lelaki itu duduk dan membuka satu persatu box berwarna coklat, sedangkan Kala berada di sebelah Jovan namun dirinya hanya diam saja.
“Ini boleh aku bawa?” Ucap Kala hendak menenteng kantong plastik berwarna putih itu.
“Kemana?” Tanya Jovan dengan wajah datar.
“Ke ru—,”
“Makan aja di sini. Kamu nggak mau makan bareng aku?” Ucap Jovan tengah memenggal kalimat yang hendak di ucapkan oleh Kala. Wanita itu terhenyak kemudian kembali duduk, membuka box berisi makanan dan mulai melahapnya.
Ruang CEO yang cukup besar itu terasa sangat tenang. Dua insan saling menikmati santap siang tanpa ada obrolan sedikitpun. Sebenarnya Kala ingin mengajaknya bicara walaupun hanya sekedar basa basi namun melihat raut wajah Jovan yang datar dan kaku, ia mengurungkan niatnya. Diam adalah pilihan yang terbaik.
Lima belas menit berlalu dan dua insan itu masih betah diam. Kala sempat mencuri pandang pada Jovan beberapa kali, dan lelaki itu merasa bahwa kala sedang memperhatikannya.
“Kal..”
“Hmm.” Wanita itu menoleh ke arah Jovan, menatap wajah tampan di hadapannya dan berhenti mengunyah.
“Kamu tinggal dimana?” Tanya Jovan tiba-tiba.
“Oh, itu.. Aku tinggal di rumah Adel sementara. Baru cari kontrakan atau apartemen yang sewanya nggak terlalu mahal.” Jelas Kala, tangan wanita itu meraih satu botol air mineral yang berada di atas meja kemudian meneguknya perlahan.
“Udah dapet?” Tanya Jovan lagi.
“Belum. Kontrakan yang dulu pernah aku sewa, udah penuh. Kemarin sempet search apart juga tapi yang deket kantor lumayan mahal.” Jelas Kala, setelah berceloteh ia kembali menghabiskan makanannya.
Jovan terdiam. Tidak ada untaian kalimat pertanyaan lagi yang di ucapkan. Ia sibuk menghabiskan makanan yang tersisa satu sendok lagi.
Kala yang sudah selesai dengan aktivitas makan siangnya sejak beberapa menit yang lalu-pun hendak pergi dari sana. Ia sudah berdiri dan berpamitan para Jovan. Lelaki itu hanya mengangguk dengan wajah datar tanpa senyum sedikitpun. Kala bergegas pernah, sesampainya di depan pintu tiba-tiba langkahnya terhenti sesaat setelah Jovan memanggil namanya.
“Kala...”
“Ya?” Kala membalikkan tubuhnya dan kedua netra bertemu.
“Kamu tinggal di apartemenku, mau? Dekat sama kantor, dari pada nggak ada yang pakai.” Ucap Jovan tiba-tiba. Tidak ada angin dan hujan, lelaki itu dengan entengnya menawarkan satu unit apartemen mewah untuk di tempati Kala. Wanita itu membeku, mencerna apa yang di ucapkan Jovan. Ia tidak percaya lelaki itu dengan mudahnya menawarkan apartemennya.
“E-aku nggak akan sanggup bayar sewanya.” Jawab Kala sedikit gugup.
“Kamu tinggal pakai aja, nggak perlu bayar sewa. Kalau kamu nggak mau, aku juga nggak maksa. Tapi kamu bisa pikirkan lagi.” Ucap Jovan sambil membalikkan badannya dan berjalan ke arah meja kerjanya. Ia duduk bersandar di kursi, mengambil ponsel di atas meja kemudian menatap Kala yang masih diam di depan pintu. Jovan kemudian sibuk dengan ponselnya bersamaan dengan langkah kaki Kala yang pergi meninggalkan ruangan itu.