Burn a while
Kala tertidur pulas sejak 20 menit yang lalu, ketika mobil yang mereka tumpangi tiba di basement. Jovan menatap Kala yang masih tertidur di kursi penumpang, ia mengulas senyum tipis sembari mengusap perut sang istri yang mulai membuncit.
Mobil masih menyala meskipun sudah terparkir hampir 10 menit. Jovan menunggu sembari menyibukkan diri dengan ponsel di tangannya. Lantas tak berapa lama wanita di sebelahnya mengerjapkan mata beberapa kali sembari mengusap paha Jovan.
Kala masih setengah sadar, ia mengedarkan pandangan ke beberapa titik yang menurutnya tidak asing. Wanita itu melepas seat belt sembari menatap Jovan yang sedari tadi setia menunggu di sebelahnya.
“Kita di basement, udah lama? Kenapa nggak bangunin aku?” Ucap Kala dengan tatapan sayu, rasa kantuk masih menggelayuti alam sadarnya.
Jovan hanya tersenyum sembari merapikan beberapa helai rambut yang menutupi wajah istrinya.
“Kamu tidurnya nyenyak banget. Capek ya?”
“Enggak. Dah yuk turun.” Jawab Kala singkat.
“Jam berapa sekarang?” Tanya Kala lagi.
“Sepuluh lebih limabelas.” Tuturnya.
Kala bergegas mengambil tas yang berada di kursi belakang setelah keluar dari mobil. Kemudian sepasang suami-istri itu berjalan menuju unit apartemen dengan saling menautkan telapak tangan.
Akhir pekan kali ini terasa cukup melelahkan bagi Kala. Seharian dirinya dan Jovan menjelajahi setiap pusat perbelanjaan guna mencari baju formal yang hendak ia kenakan untuk ke kantor esok hari. Setelah menyambangi beberapa pusat perbelanjaan dan mendapatkan apa yang di butuhkan, lantas Kala dan Jovan mengobati rasa lelah mereka dengan menonton sebuah film di salah satu bioskop.
Jovan dapat melihat dengan jelas garis wajah sang istri nampak begitu lelah, namun senyum manis itu selalu mengembang. Bahkan wanita itu tidak pernah memperlihatkan atau mengeluh dengan lelah yang di rasakan.
Setelah meletakkan barang belanjaan di dalam walk in closet, Jovan bergegas mengambil handuk dan berjalan ke kamar mandi.
Hal-hal kecil yang di lakukan Jovan dengan sengaja atau tidak, selalu sukses membuat Kala salah tingkah. Seperti malam itu, sebelum langkah kaki Jovan bergerak ke arah kamar mandi, lelaki itu dengan usil mengecup bibir sang istri. Kala sempat terhenyak kaget, namun ia hanya tersenyum disertai kekehan.
“Aku mandi dulu, sayang.” Ucapnya singkat, dan di balas anggukan oleh Kala.
Kala memandangi suaminya hingga masuk ke dalam bilik kaca kamar mandi, lantas ia pun berpikir untuk segera mandi karena aktivitas seharian membuat tubuhnya terasa lengket. Wanita itu memutuskan untuk mandi di kamar mandi tamu karena ia tidak mau menunggu Jovan terlalu lama.
Lima belas menit setelah Kala selesai membersihkan diri, ia baru sadar jika tidak ada bathrobe di sana. Hanya terdapat satu handuk berukuran sedang berwarna putih yang terletak di dekat wastafel. Wanita itu pun mengenakannya karena ia sama sekali tidak membawa pakaian dalam.
Ketika Kala berjalan keluar dari kamar tamu untuk kembali ke kamar utama, tiba-tiba terlintas di pikiran wanita itu untuk membuat kopi. Wanita itu kemudian berbalik arah menuju dapur, ia seduh kopi panas ke dalam sebuah cangkir berwarna putih serta mengaduknya pelan guna mencampur kopi dengan air panas.
Tanpa ia sadari, ada sepasang mata yang mengamati gerak gerik sejak beberapa menit yang lalu. Lelaki berperawakan tinggi itu mengedarkan pandangannya pada wanita cantik yang masih berdiri di depan kitchen bar, dengan tubuh yang di lilit handuk minim.
Sejak beberapa menit berlalu, Jovan masih enggan berpaling dari Kala. Tanpa ia sadari Jovan menelan ludahnya sendiri secara gusar. Tubuh indah sang istri yang hanya di balut handuk minim pun berhasil membuat libidonya naik tanpa aba-aba.
Angan-angan lelaki itu membumbung tinggi sebab melihat kemolekan tubuh sang istri hanya berlapis handuk minim, pun tubuh Kala masih terlihat menggoda meskipun tengah mengandung. Kehamilan Kala sama sekali tidak mempengaruhi bentuk tubuhnya. Masih tetap cantik dan jauh lebih menggoda.
Jovan bergerak lambat sembari mengayunkan kakinya menghampiri Kala. Ia rangkul tubuh wanita itu dari belakang dan mendaratkan kecupan hangat pada tengkuk sang istri. Ketika merasakan gerakan tangan dan bibir Jovan semakin bergerak agresif, lantas Kala menghentikan aktivitasnya. Kedua tangannya bertumpu pada “kitchen bar* di depannya guna menopang berat tubuhnya. ia terus menggigit bibir bawahnya lantaran si tuan terus menggodanya dengan meremas bokong miliknya.
Jovan menggeram pelan ketika ia mulai meraba payudara milik sang istri dari balik handuk yang masih melilit tubuhnya. Lelaki itu merasakan benda kenyal favoritnya sudah menegang, kemudian Jovan dengan sengaja melepaskan handuk yang masih menempel di tubuh Kala dengan sekali tarik. Handuk itu terlepas dan jatuh di lantai.
Hampir dua bulan Jovan mati-matian menahan hasratnya karena pada saat itu Kala mengalami mual dan muntah hampir setiap hari. Tubuhnya lemas, wajahnya pucat hingga membuat Jovan sangat prihatin dan tidak tega jika meminta hal lebih pada sang istri.
Malam itu Jovan sudah mendapatkan persetujuan dari Kala sejak dua hari lalu, ia sangat bersemangat karena mood mereka sama-sama baik. Tanpa ada paksaan serta suasana yang tenang dan hangat, menurutnya sangat mendukung untuk melakukannya hubungan seks dengan Kala.
Tangan lelaki itu mengusap lembut perut Kala yang mulai membesar, perut yang sering ia usap-usap serta ia ajak bicara setiap hari, membuat Jovan seringkali memikirkan wajah calon si buah hati. Apakah mirip dengan Kala atau dirinya.
Jovan mengakui bahwa dirinya lah yang sangat gemas dengan bentuk tubuh wanitanya setelah hamil dan ia merasa Kala lebih menggoda saat itu.
Setelah puas mencumbu Kala, menjarah tiap inchi leher jenjang milik Kala, detik berikutnya Jovan membalikkan tubuh Kala hingga keduanya kini saling berhadapan. Awalnya Jovan dan Kala itu saling bertatap muka, seakan-akan saling berinteraksi lewat pandangan mata.
Secepat kilat dan tanpa mengalihkan pandangannya, Jovan mendaratkan ciuman lembut dan yang hangat pada bibir Kala. Ciuman yang awalnya terasa sangat lembut dan ringan, kelamaan menjadi terburu oleh nafsu, lumatan serta lidah yang berbelit terasa lebih agresif.
Lelaki itu seakan tergesa-gesa melumat serta menjarah rongga mulut milik Kala, menyesap dan melumat penuh nafsu. Seakan-akan lelaki itu hendak membalas atas nafsu birahi yang tertahan hampir dua bulan. Seolah-olah Jovan tidak memberikan kesempatan Kala untuk bernafas dengan benar ketika gerakan pertautan bibir keduanya terasa terburu.
Lantas Jovan mengangkat dan mendudukkan tubuh Kala di atas kitchen bar, bibir lelaki itu berpindah menjarah tiap inchi leher wanitanya. Mengecup basah dan mengendus permukaan kulit mulus sang istri yang tampak polos karena satu-satunya penutup tubuhnya sudah lebih dulu di tanggalkan oleh si tuan.
Kala melenguh dan mendesah pelan ketika bibir Jovan berhenti pada puncak dada miliknya yang sudah menegang. Dua tangan wanita itu ia gunakan untuk menopang berat tubuhnya, kepala Kala mendongak saat Jovan meraup dengan rakus dua payudaranya secara bergantian.
Denyar panas yang menjalar pada tubuh Kala bak sengatan aliran listrik yang mengalir ke seluruh tubuhnya, sontak bibirnya meloloskan desahan yang sukses membuat Jovan semakin kelimpungan. Lelaki itu semakin agresif menjamah dua payudara ranum milik Kala. Bibir serta tangannya mempunyai tugas masing-masing untuk meluluhlantakkan pertahanan si puan. Wanita itu yakin, pusat tubuhnya bisa di pastikan sudah sangat basah dan menginginkan lebih; oleh sentuhan bahkan segala bentuk jamahan yang biasa Jovan berikan.
Malam itu Kala sendiri seakan terbakar oleh nafsu birahi, sama dengan Jovan yang kini tengah menggebu-gebu. Tubuh Kala terlalu peka dengan segala rangsangan yang di ciptakan Jovan —pun membuatnya seolah-olah meminta di jarah lebih dalam lagi.
Tangan satu milik Kala berhasil menopang berat tubuhnya pada saat tangan satunya ia gunakan untuk meremas rambut si tuan. Ia meloloskan desahan sarat akan resah serta racau asal ketika aliran darahnya mengalir dengan cepat dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Jovan memegangi kedua lutut Kala guna membuka kakinya. Lelaki itu kini tengah berdiri di hadapan si puan, menatap lekat raut wajah Kala yang tampak sayu dan pasrah. Seolah-olah memohon agar Jovan melanjutkan cumbuan yang berhasil membuatnya melayang.
Tangan Jovan semula mengusap lembut paha Kala, kini bergerak pelan kearah pusat tubuh milik wanita itu. Dua mata Jovan lekat mengunci pandangannya pada Kala, namun tangannya bergerak lembut menyapa milik si puan yang sudah basah.
Kala mendesis pelan, bibirnya menganga lantaran jemari lelaki itu menyentuh tepat pada klitorisnya. Jovan tersenyum miring bersamaan dengan yang Kala yang meremas lengan Jovan kuat-kuat. Lelaki itu lantas menyambar bibir ranum milik Kala yang tidak ingin ia lewatkan sedikitpun. Jovan melumat serta menggigit kecil bibir milik Kala, gemas. Lenguh serta desah tertahan terdengar lirih, seiring geraman si tuan.
Di tengah-tengah keduanya saling melumat bibir satu sama lain, tiba-tiba Kala mendorong tubuh Jovan agar menjauh darinya. Sorot matanya sayu menatap wajah Jovan, kemudian melontarkan satu pertanyaan; “Apa kita tetap di sini?”
“Nope. Nanti badan kamu sakit, sayang. Pindah kamar ya?” Ucap Jovan sembari mengecup singkat bibir Kala.
Lelaki itu kemudian mengangkat tubuh Kala dan menggendongnya. Kala sontak melingkarkan kedua tangannya pada leher Jovan. Wanita itu tidak diam saja, ia sibuk menggoda Jovan dengan mengecup lehernya, telinga, menjilat, serta mengigit kecil telinga Jovan membuat lelaki itu menggeram dan refleks meremas bokong wanitanya.
“Sayang...” Ucap Jovan lirih dengan suara rendah yang menusuk gendang telinga si puan, membuat bulu halus di tubuhnya merinding seketika.
Kala terkekeh geli lalu mengecup singkat pipi Jovan.
Setibanya di kamar mereka, lelaki itu merebahkan tubuh Kala perlahan. Jovan mengungkung tubuh Kala yang berada di bawahnya, memandangi wajah Kala lamat-lamat karena ruang kamar tersebut minim pencahayaan.
“Kal, kamu tau? Aku nggak bisa gambarin dimana letak titik itu tapi tiap liat kamu habis mandi, ganti baju, liat perut kamu makin gede, rasanya kamu tuh makin sexy aja.” Ucap Jovan terang-terangan, ia merasa lega karena bisa mengungkapkan apa yang ada di pikirannya beberapa hari ini. Jovan sempat ingin memuji Kala dengan kalimat yang baru saja ia ucapkan, namun sempat di tahan lantaran takut menyinggung perasaan Kala.
Kala terkekeh, raut wajahnya di penuhi rona merah sembari menepuk dada bidang si tuan.
“Bentar lagi aku kayak badut, Jov.” Ucapnya polos. Namun kalimat itu langsung di tampik oleh Jovan.
“Kamu ngomong apa sih? Aku nggak suka kalau kamu bilang gitu.”
“Kamu lagi bawa anak aku di dalem perut ini, sembilan bulan dan itu bukan waktu yang singkat. Aku tau kamu pasti capek, dan aku nggak bisa gantiin kamu.”
“You're beautiful, baby. Di mataku, kamu tetap cantik, selalu cantik. Jangan pernah bilang kamu mirip badut, nggak ada mirip-miripnya.” Ucap Jovan sembari mengusap perut Kala. Lantas ia mengucapkan satu kalimat penutup sebelum kembali melancarkan aksinya.
“Nak, tau nggak? Mami tuh cantik banget loh, baik, sabar, pokoknya mami tuh paling top sedunia. Kamu baik-baik ya di dalem, nggak boleh nyakitin mami, harus sayang mami. Oke?”
“Papi sama mami sayang kamu.” Ucap Jovan sebelum akhirnya ia turun ke bawah mensejajarkan wajahnya dengan perut Kala yang mulai membesar, mengecupnya hingga beberapa detik.
Rentetan kalimat yang di lontarkan Jovan benar-benar sukses membuat dirinya melayang ke awan. Pujian yang keluar dari bibir Jovan berhasil membuat Kala yakin sepenuhnya bahwa ia adalah wanita satu-satunya yang di puja lelaki itu.
Kala tersenyum, tangannya menyisir rambut Jovan menggunakan jemarinya. Detik berikutnya lelaki itu mengungkung tubuh Kala yang terbaring di bawahnya, kemudian mendaratkan kembali bibirnya di atas bibir Kala, melumatnya dengan penuh nafsu guna merangsang si puan.
Tidak perlu lama Jovan pun berhasil, bahkan membuat Kala menjadi lebih agresif di banding sebelumya.
Kala mendorong tubuh Jovan kesamping hingga lelaki itu menjatuhkan dirinya tepat di sebelah Kala. Dengan gerakan pelan, wanita itu bergeser dan menaiki tubuh Jovan. Kini Kala berada di atas tubuh si tuan sembari mengulum senyum jail pada lelaki itu.
Jovan hanya tersenyum sembari menahan kekehan, dua tangannya dengan cepat memegangi pinggul Kala, ia usap perlahan seolah-olah menyalurkan rasa hangat ke tubuh Kala.
“You're on top?”
Pertanyaan Jovan hanya di jawab dengan anggukan serta senyuman manja.
“Excuse me, I will take off my pants.”
Kala beranjak beberapa detik saja, setelah Jovan menanggalkan celana boxer yang ia kenakan, kemudian wanita itu kembali memposisikan dirinya di atas Jovan
Tangan mungilnya berhasil meraih kejantanan Jovan yang sudah menegang sempurna. Tanpa basa basi, Kala mengangkat pinggulnya serta mengarahkan batang penis itu pada miliknya dan memasukkannya perlahan hingga penuh.
Satu tangan Jovan bertaut pada telapak tangan Kala, wanita itu menggunakan tangan kokoh milik Jovan untuk bertumpu. Sedangkan tangan kiri Jovan memegangi pinggul Kala.
“Aahhh...”
Kala memejamkan kelopak matanya, desahan yang keluar dari bibirnya terdengar sangat nyaring hingga ke penjuru ruangan.
Setelah masuk dengan sempurna, Jovan mengusap perlahan pinggul Kala. Usapan lembut itu sengaja Jovan lakukan karena pada saat kejantanannya memasuki milik Kala, sontak wanita itu meremas kuat-kuat telapak tangan Jovan. Seakan-akan Kala tengah di regang oleh benda tumpul yang memaksa masuk ke dalam tubuhnya.
“Are you oke?” Suara rendah Jovan lirih mengusik indera pendengaran si puan.
Kala pun bergeming setelah beberapa detik dirinya tidak menggerakkan tubuhnya.
Perlahan wanita itu menggerakkan tubuhnya, memaju mundurkan pinggulnya dengan tempo sedang. Kedua tangannya pun ia gunakan untuk menopang berat tubuhnya berlandaskan dada bidang milik Jovan.
Dua netra sejoli itu saling bertatapan dan mengunci pandangannya satu sama lain. Jovan tanpa mengedipkan matanya barang sedetikpun, seolah-olah tidak mau melewatkan paras ayu si puan yang tampak sayu ketika mengejar kenikmatan yang ia dambakan. Bibirnya menganga sebab segala desah serta rancu ia serukan keras-keras, membakar gejolak hasrat birahi.
Kelamaan gerakan pinggul Kala semakin cepat, cengkeraman semakin erat serta desahnya semakin kuat. Wanita itu benar-benar sedang mengejar puncak ternikmat surgawi tanpa mempedulikan Jovan yang dari awal meminta.
“Pelan, sayang...”
Jovan berujar ketika Kala bergerak semakin cepat, dinding vagina milik Kala mulai berkedut dan mengetat seolah-olah tengah mencengkeram kuat batang penis milik Jovan. Namun wanita itu tidak mempedulikan ucapan Jovan, ia terus mengejar kenikmatan yang sebentar lagi sampai pada puncaknya.
“Aku mau keluar.” Sambar Kala penuh penekanan. Sampai pada akhirnya tangan Jovan bergerak mengusap punggung wanita itu dan mendorongnya pelan agar condong ke depan, mengarahkan pada dirinya.
Lantas Jovan melumat puncak payudara Kala, menyesap serta memainkan putingnya menggunakan lidah. Lelaki itu menggeram ketika bibir serta lidahnya melumat tanpa ampun payudara si puan, hingga rangsangan yang di berikan Jovan mempercepat Kala menjemput pelepasannya.
“Ahhh... Jov! Ahhh...”
Desahan wanita itupun terdengar nyaring, bersamaan dengan tubuhnya yang ambruk di pelukan Jovan. Lelaki itu mengusap punggung Kala, memberikan ketenangan dan kenyamanan pada wanita itu.
Deru nafas yang memburu, serta detak jantung yang tidak beraturan sangat terasa ketika tubuh keduanya menyatu.
“Enakan, sayang?”
Kala hanya menjawab dengan anggukan.
“Kayaknya tadi aku yang minta duluan, tapi kamu yang nafsu.”
Kala masih tidak bergeming dan masih nyaman dengan posisinya meskipun menurut Jovan, posisi Kala sekarang tidak nyaman apalagi perutnya sedikit tertekan berat tubuhnya.
Lelaki itu menggeser dan memiringkan tubuh Kala, lalu melepas penyatuan organ intim mereka.
Jovan mengecup beberapa kali kening, pipi, serta bibir Kala secara bergantian sebelum akhirnya lelaki itu berpindah posisi di belakang Kala.
Spooning; menurut Jovan mungkin posisi itu akan jauh lebih nyaman untuk Kala, ketika dirinya hendak menuntaskan hasrat.
Kecupan-kecupan basah yang di bubuhkan pada ceruk leher Kala membuat wanita itu melenguh sembari meremas bantal yang ia gunakan untuk tumpuan.
“Sayang, aku belum keluar. Aku lanjutin ya?”
Kala mengangguk pasrah.
“Gini aja posisinya, biar kamu nyaman.”
Kala mengangguk pasrah untuk kedua kalinya tanda setuju dengan ucapan Jovan. Kali ini wanita itu hanya akan menurut dengan apa yang akan di lakukan Jovan, sebab lelaki itu kini menjadi si pemegang kendali.
Perlahan Jovan melesakkan batang penisnya ke dalam liang surgawi milik kala, satu tangannya memegangi kaki Kala guna mempermudah saat dirinya melakukan penetrasi.
Gerakan pinggul Jovan terasa pelan namun dalam, lelaki itu tidak tergesa karena ia tidak ingin menyakiti Kala maupun bayi yang berada di perutnya.
Tangan Kala meremas kuat-kuat bantal yang berada di samping tubuhnya, dua netranya terpejam namun bibirnya tanpa henti meloloskan lenguh serta desah ketika kejantanan milik Jovan menusuk titik sensitif miliknya. Perlahan namun begitu dalam, bahkan hentakan sesekali ia loloskan hingga membuat dinding vagina milik Kala berkedut kembali.
“Jov, ahhh... Aku...”
“Keluarin, sayang.. Ayo keluarin bareng.”
“Aku kencengin dikit ya?”
Kala hanya mengangguk pasrah, tangannya masih meremas kuat bantal sebagai pelampiasan rasa nikmat yang menjalar di tubuhnya.
Jovan menggerakkan pinggulnya lebih cepat, ia sudah tidak tahan ingin segera mendapatkan pelepasannya. Detik berikutnya sampai pada tiga kali hentakan, Jovan mendapat pelepasannya.
“Ouh... Shit! Argghhh...”
“Aahhh... Jov...”
Dalam beberapa detik setelahnya Kala pun menjemput pelepasannya yang ke dua. Tubuhnya bergetar hebat, cengkeramannya semakin kuat. Lantas Jovan dengan cepat mengecup pipi serta bibir wanita itu, menyalurkan rasa nyaman dan tenang pada Kala.
Nafas keduanya sama-sama memburu, detak jantung Jovan dan Kala pun sangat tidak beraturan. Masih dengan posisi yang sama, Jovan memeluk tubuh Kala dari belakang sembari tangannya mengeratkan pada tubuh wanita itu; Jovan membubuhkan beberapa kali kecupan pada tengkuk si puan.
“Sayang, aku siapin air hangat buat kita mandi?”
Kala menganggukkan kepalanya sembari memegangi tangan Jovan yang melingkar di perutnya.
“Mandinya barengan aja, mau?”
Kala mengangguk lagi, namun tangannya enggan lepas dari milik Jovan seakan tidak rela jika dirinya di tinggal pergi meski hanya menyiapkan air hangat untuk mandi.
“Can i go for a bit?”
Kala diam saja, mengangguk pun tidak. Kedua matanya terpejam, tangannya masih erat menggenggam tangan Jovan.
“Why? I'll take you to the bathtub. Don't worry, baby.”
Seketika Kala pun merenggangkan tangannya seakan mengijinkan Jovan untuk pergi menyiapkan air hangat di dalam bathtub. Jovan pun beranjak dari sana, mengecup kening Kala sebelum akhirnya pergi ke kamar mandi.
“I love you, baby” Bisik Jovan tepat di telinga Kala, wanita itu tersenyum simpul meski masih enggan untuk membuka matanya.