Cerita pilu

Seutas senyum terbit di bibir Kala saat membaca pesan terakhir dari Jovan. Ia segera berbenah diri kemudian menyusul Jovan yang berada di ruang tengah. Lelaki itu sudah duduk di atas sofa, kakinya bersila, satu bantal sofa yang di letakkan di atas pangkuannya serta tangan yang sibuk memindahkan chanel pada saluran televisi.

Kaus putih tipis yang membalut tubuh Jovan serta celana tidur yang di kenakan membuat wanita itu menelan ludahnya sendiri. Pemandangan yang ada di depan matanya membuat pikiran Kala di bubuhi sedikit khayalan yang sepenuhnya semu. “Kenapa kesan-nya gue lagi nemenin suami nonton tv sih? Astaga, halu gue.” —batin Kala. Wanita itu tersenyum kecut sebelum akhirnya duduk di sebelah Jovan.

“Kamu mau nonton apa? Pilih sendiri nih..” Jovan berujar ketika ia sendiri tidak tau chanel mana yang akan di lihat oleh Kala. Lelaki itu menyodorkan remote tv kemudian di terima oleh Kala sembari tersenyum simpul di bibir manisnya.

Pada saat Kala sibuk dengan remote-nya, Jovan beranjak dari sana. Lelaki itu berjalan kebelakang, ke arah dapur. Tanpa ada yang meminta, dengan sendirinya Jovan menyeduh teh panas ke dalam satu cangkir. Sudah sangat jelas itu bukan miliknya, melainkan untuk Kala. Setelah selesai menyeduhnya, Jovan berjalan menghampiri Kala yang mulai fokus dengan layar datar di hadapannya. Tangan kanannya membawa satu cangkir teh panas beralaskan piring mungil transparan.

Ketika langkah kaki Jovan hampir sampai, di saat yang bersamaan Kala berdiri dan membalikkan tubuhnya. Tanpa aba-aba tanpa ada kata serta jarak barang sejengkal-pun, lengan wanita itu menabrak cangkir di tangan Jovan.

Prang! Cangkir terlepas dari tangan. Teh panas yang ada di dalamnya tengah membasahi dada Jovan yang hanya di balut dengan kaus tipis.

“AH!” Pekik Kala. Dirinya tersentak pada saat melihat Jovan tepat di belakangnya juga cangkir yang melesat jatuh ke lantai hingga cairan panas itu tumpah dan potongan cangkir berserakan dimana-mana.

“Jovan! Maaf, maaf, panas banget ya?” Ucapnya sembari mengibaskan tangannya beberapa kali di depan dada lelaki itu.

“Bentar, aku ambilin baju ganti.” Ujarnya sembari berlari kecil ke arah kamar Jovan yang pintunya sedikit terbuka, tanpa mempedulikan kakinya yang berdarah akibat serpihan kaca.

“Kala!” Sahut Jovan dengan nada tinggi namun wanita itu sudah terlanjur masuk ke dalam kamarnya.

Ada satu ketakutan Jovan ketika orang selain dirinya masuk ke dalam ruang pribadinya. Bukan tanpa alasan, barang peninggalan Helena masih tersimpan di sana. Beberapa pakaian, baju tidur masih tergantung rapi di dalam lemari. Pintunya pun selalu di buka ketika ia menempatinya, agar dirinya dapat mengingat kembali sosok wanita yang kini telah tenang di surga. Dua testpack yang seharusnya menjadi kejutan paling membahagiakan nyata-nya sarat akan tangis dan luka,—pun ia simpan jadi satu di dalam lemari.

Rasa sesak dan sesal sampai saat ini masih terasa bak merajam palung hatinya. Seharusnya detik ini ia menjadi seorang ayah yang paling bahagia, sepatutnya detik ini juga ia menjadi seorang suami yang paling beruntung di dunia. Namun semua harapan sudah pupus di telan takdir yang memisahkan raga. Sakit memang, tetapi untuk pulih saja Jovan masih berusaha sekuat tenaga. Belum juga sembuh, hanya di penuhi penyesalan yang masih utuh.

Kala terperangah, sorot matanya tengah mengamati satu lemari yang memamerkan memori. Jantungnya berdegup lebih cepat ketika melihat dua testpack berjajar rapi. Wanita itu memberanikan diri untuk melihatnya barang sekejap mata. Kala berdiri di depan benda itu untuk beberapa saat sebelum akhirnya lamunannya terpecah oleh suara Jovan yang lantang.

“Kal, keluar!” Seru Jovan sembari berjalan menuju ruang kamarnya.

Kala kelabakan ketika suara Jovan terdengar semakin dekat dan sosoknya tengah berdiri di ambang pintu. Untung saja, tangan kanannya sudah membawa satu kaus berwarna hitam yang ia ambil dari lemari di sebelahnya.

“Kamu ngapain? Lama banget.” Ucap Jovan ketus, raut wajahnya sedikit datar.

“Maaf Jov, aku nggak bermaksud. Tadi aku bingung ada dua lemari di situ.” Ucap Kala dengan seribu satu alasan demi menutupi rasa penasarannya pada testpack yang di lihatnya, namun ia tidak berani bertanya barang sepatah katapun karena itu privacy bagi Jovan.

“Kamu nggak sadar kakimu kena pecahan cangkir tadi?” Tanya Jovan mengalihkan perhatian sembari melihat ke arah bawah, sesaat setelah sorot matanya menggeledah ke dalam ruang kamarnya.

“Jov.. Itu,—”

“Kamu baru sadar?” Sahut Jovan.

“Pantesan perih, tapi aku beneran nggak tau kalau kena pecahannya.”

“Ya udah duduk dulu, nanti di obati.” Ujarnya. Lelaki itu memegangi lengan Kala saat wanita itu berjalan sedikit pincang akibat luka di telapak kakinya. Pada saat hampir sampai di sofa, Kala reflek berjongkok untuk membersihkan pecahan cangkir yang mengakibatkan kakinya berdarah, namun dengan cepat pula Jovan melarangnya.

“Kal, nggak usah di bersihkan. Nanti aku aja.” Ujarnya sembari menarik lengan wanita itu agar berdiri.

“Tapi Jov, nanti kamu kena juga.”

“Aku pakai sendal. Emang kamu tuh, asal lari aja nggak pakai sendal. Dah, duduk.” Sahut Jovan ketus.

Kala menuruti permintaan Jovan. Ia-pun duduk di sofa sembari meringis menahan perih. Di hadapan wanita itu, Jovan melepas kaus tipisnya yang basah kemudian menggantinya dengan kaus hitam yang di bawa oleh Kala. Tanpa ada rasa canggung serta malu, sedangkan Kala merasakan jantung yang berdetak lebih cepat ketika melihat Jovan shirtless barang sesaat.

“Tadinya teh itu buat kamu, Kal. Malah di tumpahin.” Ucap Jovan berdecak sedikit kesal.

“Sorry, aku nggak liat kamu di belakangku. Aku nggak sengaja Jov..” Ucap wanita itu lirih dengan rada bersalahnya.

“Bukan nggak sengaja tapi nggak hati-hati.”

Jovan kemudian mengambil kotak obat-obatan yang letaknya tak jauh dari sana. Mengambil satu botol cairan antiseptik dan kapas juga perban.

“Kal, coba sini kakinya naik.” Ucap Jovan sembari menepuk-nepuk pahanya. Memberi kode agar Kala meletakkan kakinya di atas paha Jovan, namun wanita itu justru mengernyitkan dahinya.

“Eh, nggak usah Jov. Aku bisa sendiri, sini aku aja yang obati.” Ujarnya, tangannya berusaha meraih cairan antiseptik dan kapas yang sedari tadi berada di tantan Jovan, tetapi di tolak mentah-mentah oleh sang tuan.

“Kamu nurut aja bisa nggak sih?! Bisa nggak jawab 'iya' gitu? Jangan dikit-dikit nggak usah, aku bisa sendiri.” Sahut Jovan ketus dan dengan suara meninggi. Lelaki itu menjadi perhatian pada Kala karena rasa tanggung jawabnya pada seorang sekretaris yang sudah membantu pekerjaannya, bukan semata-mata karena perasaan lebih terhadap Kala. Namun perhatian dan perlakuan lembut yang Jovan berikan, serta merta menjadi candu bagi Kala. Kelamaan rasa nyaman itu timbul, rasa sayang tiba-tiba muncul hingga menjadi boomerang untuk dirinya sendiri. Jika terus di biarkan seperti itu, Kala sendiri yang akan tersiksa batin. Pasalnya Jovan tidak pernah menaruh perasaan apapun terhadap Kala.

Kala terdiam atas perkataan Jovan kemudian menurutinya, ia menaikkan kaki kanannya di atas pangkuan Jovan. Lelaki itu kemudian menuangkan cairan antiseptik ke atas kapas dan membersihkan lukanya.

“Auw.. Perih Jov.” Ucap Kala sembari menggerakkan kakinya namun di tahan oleh Jovan.

“Diem kakinya, perih cuma bentar doang.” Balas Jovan memegangi pergelangan kaki sang puan, mengusapnya dengan kapas kemudian meniupnya pelan. Seluruh tubuh Kala di buatnya merinding ketika Jovan menghembuskan nafas hangat dari bibirnya.

“Jov, udah, udah.” Ucap Kala sembari menggerakkan kakinya.

“Bentar belum di perban.” Ujarnya, tangannya mencengkeram pergelangan kaki wanita itu yang aktif bergerak.

“Ini tuh ada luka sobeknya, Kal. Ya harus di perban.” Ucap lelaki itu. Tangannya terampil membuka perban yang masih terbungkus kemudian melingkarkan pada telapak kaki Kala. Di tengah kesunyian tiba-tiba saja Kala bertanya hal yang membuatnya penasaran sedari tadi.

“Jov, aku boleh tanya sesuatu?” Tanya-nya lirih, netranya menatap lekat wajah Jovan yang menunduk sibuk melilitkan perban.

“Kamu abis liat apa di kamarku?” “Kamu mau tanya sesuatu hal yang barusan kamu liat di kamar kan?” Sahut Jovan, lalu wanita itu terdiam.

“Kamu ingat Helena?” Lanjut Jovan, netranya melirik ke arah Kala. Wanita itu mengangguk, menandakan ia mengingat sosok kekasih Jovan empat tahun lalu.

“Baju-baju yang di gantung itu punya Helena, testpack punya Helena, baju tidur yang kamu pakai itu aku beli buat dia tapi nggak sempat di pakai.” Jelas Jovan dengan tatapan sendu pada Kala, raganya mungkin ada di hadapan wanita itu tetapi angannya entah kemana.

“Helena,—”

“Helena udah di surga, berdua sama calon anakku.” Ucapnya lirih, kedua netranya berkaca-kaca ketika menyebut nama Helena dan calon janin yang tak lagi bisa di rengkuh. Dada Jovan selalu sakit jika mengingatnya, selalu ada rasa bersalah dan penyesalan dalam dirinya.

Kala diam dan membisu beberapa saat sebelum akhirnya memegang telapak tangan Jovan, erat.

“Kapan?” Tanya Kala.

“Setahun yang lalu Tuhan mempertemukan aku sama Helena. Tapi tiga bulan setelahnya kami di pisahkan oleh maut. Bahkan nggak tanggung-tanggung Kal, calon anakku juga.”

“Duniaku runtuh Kal, hancur. Di saat aku mau membangun lagi hubungan yang dulu terpisah, Helena ngejar karir, aku ngejar jabatan dan perusahaan. Kami ketemu lagi pada saat sama-sama udah sukses, sampai aku ngerasa Helena itu jodohku, Tuhan ngasih jalan buat kembali sama Helena. Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain, kita bisa apa?”

“Kayak sekarang aku udah bosen sama hidup, gini-gini aja. Lempeng. Tiap hari kerja kerja dan kerja. Aku udah nggak mikirin perempuan, bahkan menikah. Buat apa coba? Toh Tuhan ngasih cobaan ke aku dengan berlipat-lipat rasa sakit. Harusnya aku udah jadi ayah sekarang, punya istri cantik dan jadi laki-laki paling bahagia. Tapi kenyataannya beda, sekarang pasrah aja. Aku udah nggak punya planing, percuma rasanya. Nggak guna.” Cecar Jovan dengan kalimat yang menyayat. Rasa sakit dan kecewa melebur menjadi satu hingga lelaki itu sudah tidak lagi punya pandangan hidup.

“Jov.. Aku peluk, boleh?” Tanya-nya meminta persetujuan pada lelaki di hadapannya yang terlihat lesu setelah bercerita tentang keluhnya. Jovan mengangguk dan Kala merangkul tubuh lelaki itu dengan erat, mengusap punggung lebar sang tuan.

“Jov.. Kamu berhak bahagia dengan apapun yang kamu temukan di depanmu. Jangan pernah menyalahkan diri sendiri, toh Helena udah tenang dan bahagia di surga. Sekarang giliran kamu menemukan kebahagiaan.” Ucap Kala lirih, ia berharap Jovan tidak terus-terusan terbelenggu dalam rasa bersalah terhadap takdir yang Tuhan berikan.

Thanks Kal, baru kali ini aku cerita banyak tentang sesuatu yang selama ini aku pendam. Bahkan Nico, Adel, aku nggak pernah cerita ke mereka.” Ujarnya sembari melepas pelukan. Lelaki itu menatap lamat wajah Kala yang ikut sendu ketika mendengarkan cerita pilu.

“Kalau ada apa-apa cerita aja Jov, jangan di pendam. Dari dulu kita temenan kan? Apapun selalu terbuka bahkan waktu Adel sebegitu obsessed ke kamu. Inget kan?” Ucap Kala, sedikit mengalihkan perhatian Jovan agar tidak terus menerus mengingat sosok Helena.

“Inget banget lah, tapi untungnya gue ngenalin Adel ke Nico. Nico nyelametin Adel dari kesakitan yang dia tanggung sendiri walaupun prosesnya lumayan lama.” Jawabnya gamblang, ingatannya kembali pada saat Adel menggilai dirinya namun tak terbalas.

“Ohh.. Pas waktu Adel mulai kenal Nico tuh aku udah resign. ya? Jadi mereka pacaran udah lama dong?” Tanya Kala lagi, dan ia berhasil mengalihkan ingatan Jovan.

“Tiga tahun lebih kayaknya.” Jawab Jovan. Kala mengangguk beberapa kali sembari menggerakkan kakinya beberapa kali.

“Udah nggak papa, besok kerja pakai sendal aja sampai sembuh.” Ucap Jovan melirik wanita itu. Kemudian membereskan obat-obatan ke dalam kotak.

“Tidur sana Kal, udah malem. Aku juga ngantuk.” Pinta Jovan, ia berdiri dan berjalan ke belakang untuk menaruh kotak obat.

“Iya.” Jawab Kala singkat, wanita itu berdiri dan mencoba menapakkan kakinya di lantai namun masih terasa perih. Ia berjalan sedikit pincang ke arah kamarnya kemudian Jovan berbicara asal.

“Bisa jalan sendiri kan? Nggak perlu aku gendong?”

“Eh, bisa Jov. Makasih ya udah di obatin.” Ucapnya ketika sampai di depan pintu kamar tamu. Dua netranya bertukar temu dengan milik Jovan yang berdiri tak jauh dari sana. Lelaki itu tersenyum dan mengangguk pelan, lalu berjalan menjauh dan masuk ke dalam kamarnya.

Setibanya di dalam kamar, Kala duduk di tepi ranjang sembari menatap kearah luar jendela yang menampilkan langit malam begitu indah. Tiba-tiba saja ia memikirkan Jovan dengan segala rasa sakit yang di pendam selama setahun terakhir dan belum juga sembuh.

Keinginannya tidak muluk, menjadi teman dan tempat berkeluh kesah di setiap kegalauan yang di rasakan Jovan mungkin sudah cukup bagi Kala. Bahkan ia berpikir untuk tidak bermain dengan perasaannya sendiri, yang ia takutkan adalah menjadi seperti Adel empat tahun yang lalu. Bukankah akan menyakitkan?