A Cafe
Kala terlihat sedikit sibuk membereskan meja kerjanya agar terlihat rapi, setelah di rasa sudah sudah bersih dan rapi kemudian ia meraih blazer yang tergantung di sandaran kursi. Langkahnya tidak terburu-buru, sangat pelan bahkan ia sambil memainkan ponselnya. Pukul 5 sore, waktunya jam pulang kantor. Pertama kalinya ia pulang sendiri, hari itu juga Adel tiba-tiba saja ada kepentingan yang mendadak sehingga tidak bisa menjemput dirinya.
Kala bukannya memesan taksi online, ia malah berjalan berlawanan arah dengan tujuannya. Bukan tanpa alasan, wanita itu hendak mampir ke sebuah soft opening cafe yang tak jauh dari kantor. Tempatnya terlihat sangat aesthetic dan bagian belakang cafe yang belum sepenuhnya selesai di bangun itu akan menjadi apik setelah balai semi outdoor berdiri sempurna. Sore itu cafe tidak terlalu ramai pengunjung, Kala menjadi lebih leluasa memilih tempat duduk.
Seperti di tempat lain, di resto, atau cafe, Kala biasanya memilih tempat yang berdekatan dengan dinding kaca. Melihat hiruk pikuk jalanan adalah hal yang menarik baginya, bahkan bisa menjadi hiburan tersendiri. Dua menit ia duduk di bangku, dua tangannya bertumpu pada meja di depannya. Dua bola matanya menembus kisi-kisi hingga lamunan sendu tak tertuju.
“Pesan apa kak?” Suara pelan namun tegas itu membuyarkan lamunannya meskipun baru sebentar. Di tatapnya sosok lelaki yang berdiri di sebelahnya, “Dovi” sebuah nama yang tertulis pada name tag-nya.
“E.. Caramel latte ya mas.” Jawab Kala sedikit terbata. Ia melirik beberapa kali lelaki yang bernama Dovi itu hingga menghilang di depan matanya. Bukan tanpa sebab, aura Dovi bahkan tidak seperti seorang waiters. Sedikit penasaran namun melamun dan memikirkan banyak hal adalah sesuatu yang paling menyenangkan.
Tidak butuh waktu lama, caramel latte yang ia pesan akhirnya tiba di mejanya. Si pengantar tak lain adalah lelaki bernama Dovi. Senyumnya tipis, setipis bibirnya. Aroma wangi parfumnya sangat manis, semanis raut wajahnya. Benar-benar sangat sempurna.
“Makasih ya mas..” Ucap Kala sembari tersenyum.
“Iya Kak. Sendirian aja kak?” Lanjut Dovi.
“Iya..” Jawab singkat dan senyum merekah di bibir sang puan.
“Selamat menikmati, ya kak.” Ucap Dovi kemudian pergi meninggalkan Kala. Wanita itu hanya tersenyum dan mengangguk pelan.
Kala menyeruput pelan minuman manis kesukaannya itu, lalu menatap keluar. Langit sore berwarna jingga sangat elok di pandang mata. Wanita yang tengah duduk sendiri itu sedang menikmati indahnya ciptaan Yang Maha Kuasa.
Lagi dan lagi, lamunan Kala kembali di buyarkan oleh mobil bernuansa hitam yang tiba-tiba parkir di depan cafe. Tidak asing di mata Kala, setelah keluar dari dalam mobil sosoknya memang sudah ia kenali. Lelaki itu berjalan dengan sangat gagah, tubuhnya tinggi dan tegap membuat dirinya enggan untuk memalingkan muka.
“Dov!”
“Woy.. Jovan. Wahh.. Bapak CEO nih.” Balas Dovi, keduanya kemudian tertawa bersamaan. Kala membelalakkan matanya, sedikit kaget karena Jovan mengenal Dovi. “Mereka teman?”—batin Kala. Wanita itu menyeruput lagi minuman yang tinggal setengahnya. Di tengah obrolannya dengan Dovi, tidak sengaja Jovan menoleh ke pojok belakang tepat pada saat Kala sedang menatap kearahnya. Jovan tiba-tiba terdiam, begitu juga Kala terlihat sedikit canggung.
Jantung Kala tiba-tiba saja berdetak lebih cepat saat melihat Jovan berjalan ke arahnya. Menarik satu kursi yang berada di hadapannya, kemudian duduk.
“Udah lama disini?” Tanya Jovan.
“Belum.” Jawab Kala singkat kemudian menyeruput lagi sisa dalam cangkir.
“Tau dari mana di dekat kantor ada cafe baru? Bukannya lawan arah kalau mau pulang ke rumah Adel?” Tanya Jovan, lagi. Wanita itu tidak habis pikir di luar kantor Jovan lebih banyak bicara dengannya. Bahkan ia tidak sedingin waktu sedang bekerja.
“Tadi OB yang ngasih tau. Penasaran, jadi mampir.” Jelas Kala.
“Ohh.. Adel jemput kesini?”
“Nggak. Dia ada kepentingan mendadak jadi nggak bisa jemput, aku pulang naik taksi.” Jelasnya.
“Udah habis?” Entah pertanyaan yang ke berapa, Kala hanya menjawab dengan anggukan saja.
“Ayo pulang, aku anterin.” Ucapnya datar.
“Eh, Jov.. Nggak usah. Aku bisa pulang sendiri naik taksi.” Ujarnya. Namun Jovan terus memaksanya sampai Kala akhirnya mau menerima ajakan lelaki itu. Jovan berdiri, kemudian di susul Kala dan berjalan mendahului lelaki itu untuk keluar dari cafe. Jovan tidak langsung pergi begitu saja, ia mengambil blazer milik Kala yang menggantung di kursi kemudian menenteng di tangan kanannya.
Ketika melewati Dovi yang sedang asik berbincang dengan salah satu waiters, Kala sempat menyapa lewat senyum dan angukan kepala dan di balas dengan senyum simpul oleh sang pemilik cafe.
“Dov, gue cabut ya.” Pamit Jovan pada lelaki bermata sipit itu.
“Oke bro.. Cewek lo?” Tanya Dovi.
“Sekretaris gue.” Jawab Jovan singkat sembari melenggang pergi meninggalkan cafe itu.