Tell me you love me

Lelaki bernama Jovano Caesar itu tengah tersulut emosinya, ketika mendapati Kala sedang duduk berdua dengan Dovi di cafe 127. Keduanya tengah berbagi tawa, berbagi cerita yang refleks di tuturkan melalui ucap kata demi kata.

Jovan melangkah tegas menghampiri dua anak manusia yang tengah bercengkerama. Sorot matanya tajam bak memergoki si puan sedang berselingkuh. Kala menyadari bahwa kekasihnya tengah berjalan menghampirinya, dengan senang hati wanita itu menyambutnya; meloloskan senyum cerah sembari melambaikan tangan ke arah sang pujaan.

“Sayang!”

Kala bersuara setengah memekik dengan semburat penuh suka cita ketika melihat kedatangan kekasihnya. Lantas Dovi yang duduk di hadapan Kala pun membalikkan badannya ke arah belakang dan mengumbar senyum di barengi kekehan kecil guna menyambut kawannya.

“Anjir, di panggil sayang dong...” Sahut Dovi tanpa basa basi, namun Jovan hanya membalas dengan senyum sinis pada Dovi. Api cemburu yang sudah menguasai akal tidak pernah tau waktu dan tempat, semakin di tahan semakin bergejolak. Seumur-umur baru kali ini lelaki bertubuh tinggi gagah itu tergila-gila dengan seorang wanita sampai ke akar-akarnya.

Ketika menjalin cinta dengan mendiang Helena, tidak separah saat ini. Lima tahun lalu, hubungan mereka jauh dari kata cemburu yang membabi buta. Bahkan Jovan saat mempercayai Helena sebagaimana mestinya, pekerjaannya sebagai model memang harus di lakoni dengan profesional jika melibatkan lawan jenis. Jovan tidak pernah sekalipun protes, justru sangat mendukung karir Helena pada saat itu.

Namun kali ini Jovan seperti kalah telak, bangun tidur tanpa Kala disisinya bak seperti bayi yang kehilangan ibunya. Sangat berbanding terbalik dengan dirinya dulu.

“Betah banget? Temen papa udah pulang, ayo balik ke kantor.” Jovan menyapa dan berujar paksa pada sang kekasih sembari melayangkan ciuman singkat di pipi Kala, di hadapan Dovi; dengan maksud pamer, secara tersirat memberi tau pada lelaki yang duduk berhadapan dengannya bahwa Kala adalah miliknya.

“Jadian nggak bilang-bilang, Jov? Ucap Dovi menutupi segala rasa kecewa dan gelisah yang bertaut di dirinya.

“Baru pacaran. Ntar kalau mau nikah, baru gue kasih tau lo lewat undangan.” Jawab Jovan di iringi kekehan, sedangkan Dovi melayangkan senyum kecut penuh paksaan.

Rasanya Dovi ingin sekali geram, lelaki itu tak kalah panas akibat di bakar api cemburu oleh sejoli yang tengah asik saling mencinta. Kenyataan bahwa Dovi kalah sebelum berperang sudah sangat jelas dari pertama kali dirinya mengenal Kala, untuk murka pun ia tidak berhak.

“Bro, gue cabut ya..” “Cewek gue mukanya udah capek banget nih.”

Terlihat terang-terangan di depan Dovi ketika Jovan ingin menunjukkan bahwa ia kini tengah menikmati kemesraan sebagai sepasang kekasih, dan sangat bahagia dapat memiliki Kala. Bermaksud pamit pun dengan luwes tangannya memeluk Kala, lalu mengusap lengan wanita itu. Menatap netra Kala sembari mengulas senyum, seakan-akan dunia hanya milik mereka berdua. Jovan kini terlampau percaya diri ketika mengumbar kemesraan di depan kawannya.

Jika melihat raut wajah Dovi saat itu, garis kerut di beberapa bagian sangatlah nampak. Ketika dirinya melihat sepasang kekasih itu terang-terangan tengah menyuguhkan sorot kebahagiaan di depan matanya.

“Dovi, aku balik yaa..” Ucap Kala, ia pun beranjak dari duduknya dan menggenggam tangan Jovan untuk pergi meninggalkan cafe. Dovi tersenyum pasrah dan mengangguk guna membalas ucapan Kala.

Jovan dan Kala bergegas meninggalkan cafe 127. Telapak tangannya bertaut erat di sela jemari sang kekasih. Kala merasakan dua telapak tangan yang saling bertaut itu semakin erat, langkah kaki Jovan pun terasa semakin terburu. Wanita itu merasa sedikit kewalahan mensejajarkan langkah Jovan ketika dirinya mengenakan sepatu heels.

“Kamu tadi ngobrol apa aja sama Dovi?” Tanya Jovan tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangan ke samping, bahkan lelaki itu terus menatap ke depan dan berjalan cepat.

“Cuma tanya kabar, terus aku bilang kalau kita mau menikah tahun ini.” Jawab Kala penuh penekanan tetapi Jovan hanya diam, sebelum akhirnya ia melontarkan kalimat sarat akan rasa cemburu.

“Kamu sadar nggak kalau Dovi itu sebenarnya naksir kamu, dia suka sama kamu.”

Kala diam, wanita itu paham jika Jovan tengah terbawa emosi. Kala bukanlah tipe wanita yang hobi adu mulut, ia lebih nyaman untuk diam dan introspeksi diri. Dirinya paling malas jika harus di suguhkan dengan pertengkaran yang menurutnya dapat di selesaikan dengan kepala dingin, menurut Kala hanya membuang-buang waktu.

Selama mereka berpacaran, Jovan dan Kala tidak pernah bertengkar. Jovan memperlakukan Kala bak seorang ratu, sangat paham dan mengerti apapun yang Kala mau tanpa harus menjelaskan secara detail.

Jovan tidak bergeming, tanpa mengeluarkan sepatah katapun hingga langkah kakinya mengantarkan pada sebuah lift yang akan membawa mereka ke lantai empat. Dimana ruang CEO, ruang sekretaris dan ruang meeting berada dalam satu lantai.

Garis wajah si tuan terlihat kaku, sedari tadi menelan ludahnya, gusar. Terlihat dari jakun yang bergerak naik turun beberapa kali. Jovan melihat dirinya melalui pantulan dinding lift berlapis logam, kemudian melepaskan dasi yang ia kenakan serta beberapa kancing kemeja yang sengaja ia lepas. Sedangkan Kala masih betah diam, ia pun menatap si tuan melalui pantulan dinding lift hingga kedua netranya saling bertemu.

Ting...

Pintu lift terbuka ketika tiba di lantai empat, mengantarkan dua sejoli yang masih betah diam namun tangan mereka masih enggan untuk saling melepaskan.

Kala berjalan di sisi kiri sang kekasih, dirinya sempat melihat ke arah ruang meeting yang terlihat berpenghuni. Ruang itu memang sedang di gunakan oleh orang-orang dari divisi pemasaran.

Klek...

Suara decitan pintu terdengar ketika Jovan menutup dan mengunci pintu di ruangannya. Lantas Jovan melemparkan dasi ke sembarang arah di atas sofa ketika dirinya berjalan dan duduk kembali di belakang meja kerjanya, berkutat dengan beberapa berkas yang menumpuk di hadapannya.

Kala menatap sesaat raut wajah Jovan yang sedikit kaku, ia pun duduk di sofa dan merapikan berkas-berkas yang masih tercecer di meja.

Wanita itu menyandarkan punggungnya pada sofa dan menghela nafas panjang ketika situasi pada saat itu membuat dirinya menjadi canggung. Ia sempat merutuki dirinya sendiri karena terlalu ceroboh saat bertindak. Kurang dari satu jam yang lalu Kala merasa bosan ketika ia berada di ruang sekretaris sendirian, ia harus menunggu Jovan yang masih berbincang dengan rekan kerja papanya mengenai proyek.

Pada saat itu juga, Kala memutuskan untuk pergi ke cafe 127 untuk melepaskan penat meskipun hanya sesaat. Namun Kala tidak pernah menyangka jika keberadaannya di cafe milik Dovi itu justru menyulut aliran amarah dan api cemburu.

“Jovan..”

“Sayang, kamu marah sama aku?” Tanya Kala pada si tuan yang masih berkutat dengan pekerjaan.

“Hmm..”

“Kamu marah sama aku? Jawab, Jovan.” Tanya-nya lagi, kali ini penuh penekanan.

“Kalau aku bilang, iya. Gimana menurut kamu? Salah?” Balas lelaki itu sembari melemparkan tatapan sinis pada Kala.

“Jovan benar-benar sedang marah.” —batin Kala.

“Sayang, kenapa kamu tiba-tiba posesif gini? Aku nggak pernah liat kamu kayak gini sebelumnya.” Tutur Kala dengan nada lirih, ia ingin tau bagaimana keadaan hati Jovan saat itu juga tanpa harus menyinggung perasannya.

“Kala, kalau aku boleh jujur, aku nggak mau kejadian buruk beberapa tahun lalu terulang lagi. Apapun alasannya, aku nggak mau liat kamu dekat sama laki-laki lain.”

“Kalau kamu bilang aku egois, iya kali ini aku egois. Aku posesif? Iya, barusan kamu liat aku jadi laki-laki posesif, kan? Kalau kamu tanya kenapa? Karena aku nggak mau kehilangan orang yang aku sayang, yang aku cinta untuk ketiga kalinya.”

“And soon we will be married, baby.”

Kalimat yang baru saja di lontarkan oleh bibir Jovan sukses membuat Kala membeku, ia seperti sedang di cecar beberapa pernyataan bahwa laki-laki yang kini tengah menatap matanya dengan seduktif itu sangat mencintai dirinya hingga tidak ingin kehilangan.

Kala sontak menutupi wajahnya menggunakan kedua tangannya. Di sela itu Kala sedang berpikir bahwa ia merasa layaknya wanita yang jahat.

Netra si tuan menangkap sosok sang kekasih yang tengah frustasi dan serba salah. Beberapa menit yang lalu ia baru saja berkata pada Kala dengan nada yang meninggi karena merasa kesal, lantas Jovan menyesal. Lelaki itu beranjak dari duduknya dan berpindah untuk duduk di sebelah Kala; di sofa. Jovan memegangi kedua tangan Kala, perlahan ia singkirkan agar dirinya dapat memandang wajah cantik sangat kekasih dengan leluasa.

“Baby, i'm sorry.. Aku tadi ngomongnya kasar ya? Hm?”

“I'm so sorry, baby..”

Berkali-kali Jovan mengucapkan kata maaf, kalimat yang terucap lirih itu tepat di depan wajah Kala hingga membuat wanita itu membeku untuk beberapa saat.

“Sayang, kenapa kamu minta maaf terus? Hmm...?”

“Jovan, maaf ya kalau kamu jadi ngerasa nggak nyaman. Aku tadi ke cafe nggak ada maksud apa-apa, jujur aku sempat bosan waktu kamu ngobrol lama sama teman papa. Jadi aku ke cafe.” Tutur Kala pada jovan yang masih menatap lekat kedua netranya.

Jovan mengusap wajah Kala pelan, mengecup keningnya lalu mencium bibir wanita itu dengan perlahan. Kala pun menyambutnya dengan senang hati, ia membalas ciuman itu lebih dalam hingga saling membelit lidah, bertukar saliva satu sama lain. Ciuman yang awalnya sangat pelan, kelamaan sarat akan tuntutan lebih dan lebih. Jovan semakin gusar ketika dirinya sudah di kuasai nafsu, sedangkan Kala masih tenang dan mengikuti permainan yang di ciptakan Jovan.

Tangan lelaki itu mulai bergerilya, meremas perlahan buah dada milik sang kekasih dari luar baju yang di kenakan tanpa melepas pertautan bibir mereka. Kemudian Jovan melepaskan satu per satu kancing blouse yang di kenakan Kala dengan sedikit tergesa sembari mencium tiap inchi permukaan kulit si puan. Mulai dari telinga, leher, serta dada wanita itu hingga jari-jari Jovan berhasil melepaskan kaitan bra dalam satu kali percobaan.

“J-Jov, kita masih di kantor.” Ucap Kala lirih, tangannya mencengkeram lengan Jovan dan sedikit mendorong tubuh lelaki itu.

“No problem, baby. Aku kunci pintunya dari dalem buat jaga-jaga, tapi kayaknya nggak bakalan ada orang yang kesini.” Ucapnya, meyakinkan Kala.

Lelaki itupun melanjutkan aktivitasnya, ia melucuti pakaian yang di kenakan Kala sembari memagut kembali bibir ranum wanitanya. Melumat dengan rakus dan tergesa, hingga suara decap pertautan bibir mereka terdengar jelas.

Kala menahan desah yang hampir keluar dari bibirnya, ketika jemari Jovan meremas dan memutar puncak payudara miliknya. Kecupan-kecupan basah yang di bubuhkan pada tiap inchi permukaan tubuh Kala serta merta menyalurkan getaran yang hangat pada tubuh keduanya. Perlahan Jovan merebahkan tubuh Kala pada sofa, tangannya mengusap-usap paha wanita itu dengan seduktif. Rok berbahan kain yang panjangnya di bawah lutut dengan belahan di bagian belakang, sukses di naikkan oleh tangan Jovan hingga batas pinggang dengan sekali tarikan.

Kecupan basah serta hisapan dari bibir Jovan meninggalkan bekas di kulit Kala, pun bercak ruam kemerahan sebagai tanda kepemilikan. Kelamaan kecupan hangat itu mendarat pada puncak payudara Kala. Lelaki yang masih utuh mengenakan setelan lengkap itu melahap dan mengulum dengan rakus dua payudara kekasihnya secara bergantian.

Jovan sukses membuat Kala meloloskan desah serta rancu ketika bibir lelaki itu mengulum puncak payudaranya dan sesekali memainkan puncaknya menggunakan lidah. Tangan satunya ia gunakan untuk meremas dan menstimulasi rangsangan pada tubuh Kala.

Lelaki itu sangat tidak peduli dengan situasi bahkan tempat yang hendak ia gunakan untuk bercinta. Di dalam ruangannya, berlandaskan sofa yang sempat ia geser hingga menempel pada dinding kaca agar tidak tersorot CCTV. Jovan berhasil memancing hasrat si puan hingga takluk tanpa perlawanan.

Kala menyerahkan sejadi-jadinya tubuh yang hampir telanjang untuk di kuasai Jovan malam itu. Libidonya sudah benar-benar naik, wajahnya sayu seakan meminta untuk di jamah lebih oleh Jovan.

Semua perlakuan Jovan, sentuhan, kecupan, lumatan, sukses membuat Kala menjadi ketagihan bak sebuah candu. Begitupun sebaliknya, aroma tubuh kala, segala rancu dan desah yang di loloskan melalui bibirnya pada saat bercinta adalah candu bagi Jovan.

“Jov.. Kamu yakin, ini aman?” Ucap Kala di tengah-tengah hembus nafas yang kian memburu.

“Aman, sayang. You can moan, but don't scream. Oke?” Ucap Jovan pada kala sembari mendaratkan ciuman singkat pada kening dan bibir Kala.

Wanita itu mengangguk pasrah, di atas sofa dengan tubuh yang setengah telanjang. Jovan lantas menanggalkan satu persatu pakaian yang di kenakan, melempar sembarang kain-kain itu di atas lantai yang dingin. Kemudian Jovan menyingkirkan dua kain penutup aset milik Kala, rok kerjanya dan celana dalam hingga wanita itu kini benar-benar terlihat telanjang.

Udara yang dingin terasa menyapa tubuh keduanya, tanpa sehelai kain yang menutupi dan hanya peluh kian membasahi tubuh mereka.

Jovan mensejajarkan wajahnya pada aset milik Kala yang menjadi bagian favoritnya, jemari lelaki itu menyapa liang surgawi yang sudah sangat basah serta klitorisnya yang berkedut seakan meminta untuk segera di manjakan oleh lidah Jovan.

Tanpa aba-aba, Jovan mendaratkan lidahnya pada permukaan vagina Kala, menyesap serta menjilatnya penuh nafsu hingga membuat wanita itu merintih sembari meremas surai si tuan.

Lidahnya yang hangat berhasil hantarkan denyar panas dalam tubuh, membuat aliran darah semakin cepat mengalir dari ujung kaki hingga ujung kepala.

Kala memejamkan kelopak matanya sembari melengkungkan tubuhnya beberapa kali, sebab lidah Jovan menggoda klitorisnya dan dua jarinya berhasil masuk pada liang kenikmatan milik kekasihnya.

Jari-jari Jovan menggesek perlahan liang milik si puan yang sudah sangat basah dan bibir serta lidahnya sibuk memainkan klitoris guna mempercepat rangsangan titik puncak pelepasan.

“Ouh.. Jovan..” “Aahhh..”

Desahan wanita itu akhirnya lolos di balik bibir mungilnya yang ranum. Sedangkan Jovan terus merangsang tubuh Kala agar sesegera mungkin mendapatkan pelepasannya.

Kedua kaki wanita itu mulai bergerak resah ketika lidah dan bibir Jovan bergerak semakin brutal.

Jovan menggeram gemas mana kala iya merasakan dinding vagina milik sang kekasih mulai mengetat dan berkedut. Bibir Kala tak henti-hentinya mengeluarkan lenguh serta desah di penuhi resah ketika gelombang pelepasan hampir didapatkannya.

“Jov—, aku mau cum.” Ucap Kala dengan suara yang terbata.

“Come on, baby. Cum in my mouth.” Balas Jovan di tengah aktivitasnya, menggerakkan dua jarinya dan mempercepat tempo agar sang kekasih berhasil mencapai orgasmenya.

Tubuh Kala melengkung, desahannya tanpa terputus dan kedua kakinya mulai bergerak resah. Menit berikutnya, cairan pelepasan itu membasahi jemari dan bibir Jovan. Lantas lelaki itu menyesap semua cairan yang keluar dari liang kenikmatan milik Kala, pun yang masih menempel di jarinya. Membersihkan sisa-sisa cairan pelepasannya menggunakan lidahnya hingga membuat si puan terus melenguh dan mendesah karena nikmat.

Jovan bergerak dan berdiri seraya menghampiri Kala yang tengah menstabilkan nafasnya, keringat membasahi tubuh keduanya. Ruang yang dingin pun berubah menjadi hawa panas yang bergejolak birahi, menguasai akal sehat dua sejoli yang tengah mencinta.

Kala menelan ludahnya sedikit gusar ketika melihat kejantanan Jovan yang sudah ereksi sempurna. Kepemilikan Jovan yang besar dan kokoh itu sudah siap memporak-porandakan dirinya. Wanita itu cukup pasrah dengan permainan yang di ciptakan Jovan, ia lebih memilih mengikuti semua alur ketika sang kekasih menjadi pemegang kendali.

Jovan membubuhkan kembali kecupan-kecupan mesra pada tubuh Kala. Ia memposisikan tubuh wanitanya menjadi menyamping, satu kakinya di letakkan pada bahunya yang kokoh. Kemudian Jovan menggesekkan batang kejantanannya pada permukaan liang kenikmatan milik Kala.

Kala melenguh sembari meremas sandaran sofa yang ia gunakan untuk bertumpu, kelopak matanya tertutup rapat. Wanita itu bersiap-siap untuk serangan yang tak terduga oleh si tuan.

“Are you ready, baby?” Tanya Jovan sembari mengusap kaki Kala dan mengecupnya beberapa kali. Wanita itu hanya menjawab dengan anggukan, tangannya masih meremat kencang pada sofa hingga batang kejantanan lelaki itu perlahan memasuki dirinya.

Liang milik Kala bak di regang benda padat dan kokoh, dinding vagina wanita itu menjepit kuat serta hangat. Setelah masuk penuh pada kepunyaan sang kekasih, Jovan menggerakkan pinggulnya secara perlahan, dengan tempo yang pelan juga. Lelaki itu memberikan kesempatan Kala untuk mengatur nafas dan menyiapkan tubuhnya untuk di hajar secara tiba-tiba, di waktu dan kesempatan yang terbatas pula.

Terdengar rintihan sarat akan rasa nikmat atas pertautan tubuh mereka, lenguh dan desah yang mulai mengisi ruang sunyi serta bunyi decap mana kala dua tubuh yang bersatu melalui pergesekan organ intim keduanya. Semakin jelas terdengar, semakin nyaring dan semakin menimbulkan candu.

Tempo yang awalnya pelan-pelan, kelamaan menjadi cepat dan lebih cepat. Gesekan organ intim dua sejoli itu semakin gencar seiring hasrat yang memburu nikmat. Dua tangan Jovan mempunyai tugas masing-masing, tangan kirinya ia gunakan untuk mencengkeram dan menahan kaki wanitanya agar tetap pada posisinya. Sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk meremas bokong sintal milik Kala, sesekali bergerilya di atas payudara si puan dan menggodanya dengan memutar serta mencubit kecil puncak payudaranya yang mencuat tegang.

Kala memekik dan mendesah kencang ketika batang penis Jovan menghentak dengan keras pada liang surgawi milik sang kekasih hingga menabrak titik sensitif di dalam sana.

“Ssstttt... Don't scream, baby. Moan my name but don't scream.” Ucap Jovan lirih, dengan hembusan nafas yang tersengal.

Berkali-kali Jovan menggeram, kini tangan kanannya ia gunakan untuk membungkam mulut Kala ketika dengan sengaja Jovan menghentak, menumbuk liang kenikmatan milik sang kekasih dengan sangat keras hingga mengenai titik sensitifnya. Semakin keras, semakin dalam serta semakin cepat gelombang kenikmatan itu muncul dan hampir sampai.

Kala mendesah tertahan, ketika mulutnya terbungkam oleh telapak tangan si tuan. netranya menatap lekat dua bola mata Jovan, saling mengunci pandangan di sertai senyum seringai. Terlukis jelas di bibir Jovan senyum penuh kemenangan, bahwa dirinya sukses dua kali membuat Kala kewalahan dan pasrah. Melihat wanitanya bermandikan peluh, raut wajah yang berantakan serta rintihan bak meminta ampun, Jovan merasakan kepuasan tersendiri.

Denyar panas yang menghantarkan gelombang pelepasan berikutnya mulai terasa pada tubuh Kala, dinding vagina yang mulai berkedut dan semakin ketat. Tubuh Kala yang mulai bergetar hebat serta mata yang terpejam membuat lelaki itu semakin mempercepat temponya. Semakin dalam dan keras.

“You wanna cum, baby? Huh??” Tanya Jovan sembari menatap dua bola mata Kala. Tangannya masih bertengger di atas mulut Kala, satu tangan wanita itu mencengkeram erat pergelangan tangan Jovan sembari mengangguk.

Kala ingin mendesah, ingin berteriak sekencang mungkin ketika miliknya di hajar habis-habisan oleh Jovan. Nikmat yang Kala rasakan bak di bawa terbang ke langit ketujuh.

“Kala, Tell me you love me. Come on, baby.” Jovan berujar sembari melepaskan cengkeraman pada mulut Kala. Kulit wajah pucat wanita itu terlihat berbekas kemerahan karena Jovan membungkam mulut kekasihnya sangat kuat.

“I love you, Jovan. I love you so much.”

“I am yours and you are mine.”

Dua penggal kalimat yang keluar dari bibir Kala —pun dengan susah payah. Rasanya ingin memejamkan mata ketika merasakan denyar panas yang menyapa tubuhnya, namun Kala rela menatap wajah Jovan yang sedari tadi memandangi dirinya.

“Aahh.. Jov—vannn..”

“Come on, baby.”

“Aahh...”

“Oughh.. Shit, baby. Ahh..”

Desah dan rancu keduanya mengantarkan pada pelepasan yang sangat mereka damba. Tubuh Kala bergetar hebat ketika sampai pada titik puncak kenikmatan, Jovan pun menggeram dan menekan dalam-dalam miliknya pada tubuh Kala pada saat menembakkan cairan spermanya hingga bercampur dan penuh. Cairan kenikmatan yang bercampur itu mengalir di sela paha Kala.

Jovan mengusap puncak kepala wanita itu, mengecup kening dan bibirnya kemudian melepaskan perlahan miliknya dan beranjak dari atas tubuh Kala.

“Thank you, Kala. For everything. I love you so much.”

Kala tersenyum pasrah, wajahnya terlihat sangat lelah, tubuhnya pun lemah.

Jovan memungut kembali helai kain yang tercecer di lantai, lalu mengambil beberapa lembar tidu guna membersihkan sisa cairan orgasme yang menempel pada paha Kala, juga miliknya.

“Pakai baju dulu, kita pulang sekarang.” Ucap Jovan sembari mengecup kening Kala. Wanita itu mengangguk, lalu mengenakan kembali pakaian kerjanya. Memang tampak lusuh, ada beberapa kancing baju yang terlepas hingga tidak bisa di pakai secara sempurna.

“Jovan..”

“Hmm?”

“Ini kancing bajunya sebagian lepas, bra aku jadi kelihatan.” Ucap Kala, matanya memandang Jovan namun kedua tangannya memberi tau letak kancing baju yang terlepas.

Jovan terkekeh menanggapi ucapan Kala, ia menyelesaikan berpakaiannya kemudian berjalan ke arah meja kerja. Lelaki itu mengambil jas yang berada di kursi, lalu memakaikannya pada tubuh Kala.

Jovan berjongkok di depan kekasihnya, lantas berucap; “Pakai ini ya? Biar badan kamu tertutup.”

“Ayo pulang.” Jovan beranjak, tangannya terulur di hadapan Kala dan di sambut oleh si puan. Keduanya saling bertatap dan melemparkan senyum.

Jovan dan Kala berjalan beriringan meninggalkan ruang CEO dalam keadaan yang sedikit berantakan, sofa dan bantalnya sudah tidak beraturan serta tidak pada tempatnya. Pun berkas yang masih berserakan di atas meja.

Dua tangan saling bertaut serta genggaman yang begitu erat. Langkah Kala terlihat tertatih dan kesulitan mensejajarkan langkah Jovan di sebabkan organ kewanitaan yang terasa sakit, hingga lelaki itu menyadarinya.

“Sakit, sayang?”

Jovan menghentikan langkahnya, lantas memandangi sang kekasih dari ujung kepala hingga ujung kaki.

“Iya, Jov. Kamu jalan pelan-pelan aja.”

“Iya, sayang. Masih kuat jalan?” Tanya-nya lagi. Kala hanya menjawab dengan anggukan dan wajah memelas.

“Oke, kita jalan pelan, kita pulang dan istirahat. Besok kamu nggak usah kerja dulu kalau masih sakit. Ya?”

Kala mengangguk beberapa kali tanda setuju, kemudian mereka berjalan pelan menuju lift.

Ting....

Pintu lift terbuka, sudah siap mengantarkan Jovan dan Kala pada lobi. Ruang berbentuk persegi itu tak berpenghuni, hanya ada dua sejoli yang tengah di mabuk cinta.

“Baby...”

Kala mendongak guna menatap wajah Jovan.

“Am i too rough? I'm so sorry.” Ujarnya sembari meremas telapak tangan Kala, lalu membawanya dan mencium punggung tangan si puan.

“No, this is my first experience and I love it.” Ucap Kala sembari tersenyum. Lelaki itu terkekeh lantas tangan satunya meraih tengkuk Kala dan mendaratkan ciuman mesra hingga beberapa detik.

Ting...

Jovan dan Kala sontak kaget ketika mendengar lift berbunyi tanda pintunya terbuka. Dan beberapa karyawan dari divisi pemasaran memergoki atasan mereka tengah bercumbu dengan sekretaris di dalam lift. Wajah Jovan dan Kala bersemu merah, menahan malu. Keduanya bergegas meninggalkan gedung di barengi kekehan dan senyum jahil dari para karyawannya.