Night Long

23.20

nut nut nut

cklek.....

Jeremy memasuki unit apartemennya dengan mnenteng satu paperbag berisi beberapa botol minuman. Kenapa ia ingin minum dengan Helena malam ini? Karena ia butuh teman untuk sekedar ngobrol, dan Jeremy bukan orang yang terbuka soal masalah pribadi.

“Lo bawa minuman sebanyak ini?”

“Hm?”

“Eh, sorry jadi panggil lo.. Kamu maksudnya...” Ujarnya nyengir.

“Mau lo, gue ya gapapa Hel, santai aja...”

“Sorry... Beneran gapapa? Kebiasaan sama temen2..”

“Iya gapapa, gak usah canggung. Lebih santai aja.. Gue mandi dulu ya Hel..”

“Mm...”

Jeremy lalu berjalan ke kamarnya dan membersihkan diri. Helena menunggu di ruang tengah sambil melihat tayangan Netflix. Malam itu Helena menyanggupi untuk menemani Jeremy minum, bukan tanpa alasan. Setelah percakapan dengan dua sahabatnya melalui pesan singkat yang menyinggung perihal mantan kekasihnya, membuat gadis itu mengingat kembali masa lalunya. Tentu saja minum adalah healing bagi dirinya.

Setelah selesai mandi Jeremy kembali ke ruang tengah, keduanya duduk di sofa yang sama.

“Kerjaan gimana Hel?” Tanya Jeremy sambil membuka botol minuman tersebut lalu menuangkan pada gelas di hadapannya.

“Kerjaan ya gini-gini aja Jer, lo gimana?”

“Sama. Kerja ya pagi-pagi ngantor, ketemu klien, meeting, gitu aja terus.” Jawab Jeremy seraya memberikan gelas yang berisi minuman kepada Helena.

Gadis itu lalu meneguk minuman di tangannya. Percakapan panjang lebar malam itu tak terasa memakan waktu yang lama. Mulai dari membicarakan tentang pekerjaan hingga masa kuliah dulu. Entah sudah berapa kali putaran hingga pandangan sudah mulai kabur, kepala pun terasa lebih ringan dari sebelumnya.

“Hel, masih kuat?”

“Menurut lo?” Dengan senyum seringai Helena kembali menuangkan minuman ke gelasnya, hampir penuh lalu meminumnya tanpa jeda. Jeremy melihat kelakuan gadis tersebut hanya tersenyum lalu menggelengkan kepalanya.

“Jer, lo sama Nathalie gimana? Dia tau kalau lo di jodohin sama gue.”

“Gue belum bilang kalau sama lo..”

“Sampaikan maaf gue ke Nathalie ya? Lo jelasin kalau kita emang gak ada apa-apa..”

“Iya, nanti gue bilang ke Nath...”

Kini Jeremy yang tak sabar meminum dari gelas di tangannya lalu mengambil botol yang di hadapannya dan meminumnya secara langsung. Helena hanya terkekeh melihat kelakuan lelaki tersebut.

“Hel, gue boleh tanya sesuatu?”

“Mm... Apa?”

“Tapi mungkin ini masalah pribadi banget..”

“What??”

“Sekitar tiga tahun lalu, gue denger gossip tentang lo... You have an abortion?? Gue tau karir lo lagi naik waktu itu. why??? What do you think?

Helena menghela nafas panjang, memorinya di paksa untuk kembali lagi ke masa lalu. Gadis itu mengambil botol yang di tangan Jeremy lalu meminum langsung dari botol tersebut lebih gila, ternyata Helena sekuat itu?—batin Jeremy.

“Dosa banget gue Jer...” Helena memulainya, menceritakan sedikit kisah masa lalunya yang menyakitkan.

“Waktu itu gue dilema banget. Karir gue lagi naik, dan pacar gue belum dapat jabatan di perusahaan bokapnya.”

“Orang tuanya tau kalau pacaran sama gue, gak ada masalah apapun. Beberapa kali ketemu sama mereka dan nyokapnya baik banget.”

“Tapi bokapnya bilang kalau sejauh-jauhnya gaya pacaran kami, jangan sampai hamil di luar nikah. Kalau sampai kejadian, dia gak bakal dapet perusahaan bokapnya.”

“Dan gue gak mungkin tiba-tiba ilang kan?? Apalagi gue terikat kontrak juga waktu itu.”

“Sakit banget hati gue, sebelum akhirnya keputusan terakhir, berkali-kali gue mikir gimana baiknya selain aborsi? And then, there is no way out.. I did it...

Helena tertunduk dengan dua tangan memegang kepalanya. Air matanya pun tumpah begitu saja. Jika harus mengingat kembali masa itu, sungguh menyakitkan baginya.

“Hel...” Jeremy mencoba menenangkan gadis itu, ia mengusap punggungnya perlahan.

“Mau gue peluk?” Tawar Jeremy.

Thank you Jer....” Helena menegakkan kepalanya, dan menatap lelaki di sebelahnya lalu perlahan masuk ke dalam pelukannya.

“Kalau lo mau nangis, ya nangis aja...” Ujarnya sambil mengusap punggung Helena.

Gadis itu pun menangis sesenggukan. Awal percakapan via pesan singkat lalu pertemuan makan malam yang awalnya tegang dan canggung pun kini terasa lebih cair. Jeremy tak sedingin yang ia kira, pun sebaliknya Helena tak sekuat yang di pikirkannya. Bagaimanapun dan apapun masalahnya, perempuan tetap mempunyai sisi yang lemah.

“Hel... Lo putus sama dia? Udah lama?”

Jeremy penasaran hingga mengorek sedikit demi sedikit tentang masa lalu Helena. Bukan tanpa alasan, Jeremy sebelumnya berpikir bahwa masalah dengan Nathalie dan keluarganya cukup berat tetapi di luar itu ada orang lain yang mempunyai masalah mungkin lebih rumit dari yang ia hadapi saat ini.

“Sama-sama sibuk, gue ngejar karir dan dia ngejar jabatan di perusahaan bokapnya. Tiba-tiba lost contact...”

“Hel, gue kira masalah gue udah cukup berat ternyata lo punya masalah yang serumit itu...”

Helena menganggukkan kepalanya lalu tersenyum.

“Jer, bentar gue mau ke toilet...”

Helena berdiri lalu berjalan sempoyongan karena efek alkohol dalam tubuhnya. Baru beberapa langkah, kakinya menyenggol lutut Jeremy yang masih duduk di sebelahnya kemudian terjatuh diatas tubuh Jeremy. Dua mata keduanya bertemu, nafas yang keluar dari bibirnya pun beradu. Tak kurang dari sejengkal jarak keduanya membuat jantung Helena tiba-tiba berdetak lebih kencang dari biasanya.

“He-helena...”

“O..oh sorry Jer...” Gadis itu kemudian bangun dengan susah payah karena dua kakinya agaknya tak cukup kuat menopang tubuhnya sendiri. Belum jauh juga langkah Helena tiba-tiba Jeremy di belakangnya dan menarik lengan gadis itu hingga berbalik dan membentur tubuh Jeremy.

“Kalau gak kuat jalan tuh bilang... Sini gue bantu.”