I'm Wrong

⚠️❗TW

Pesan yang di terima dari Nathalie lima menit yang lalu membuat hati Jeremy berkecamuk. Terlihat jelas foto hasil USG namun calon bayi yang seharusnya membuat Jeremy bahagia ternyata tak bertahan lama di rahim Nathalie.

Malam itu Jeremy sedang menemani Helena untuk fitting gaun pengantin pun goyah. Sebelumnya ia duduk bersandar di atas sofa dan sibuk dengan ponselnya, setelah mendapatkan pesan dari Nathalie ia pun tanpa basa basi bergerak cepat mengayunkan langkah kearah gadis itu kemudian berbisik lirih,

“Aku pergi dulu, penting. Nanti kamu pulang naik taksi ya?”

Helena sama sekali tak menjawab, dua bola matanya menatap sosok Jeremy yang pergi begitu saja dan menghilang dengan cepat di balik pintu.

Lalu lintas sepertinya kurang mendukung langkah Jeremy. Jalanan yang cukup ramai sehingga ia harus bekerja keras mencari celah agar bisa cepat sampai ke rumah sakit. Berkali-kali Jeremy melirik arloji yang menempel di tangan kirinya. Batinnya sangat resah.


Rumah Sakit

Tiga puluh menit berlalu setelah Nathalie mengirim pesan pada Jeremy, sosok yang masih mengisi hatinya pun tak kunjung datang. Mata dan jarinya sudah lelah sedari tadi memainkan ponsel hingga sedikit memanas. Tak lama ia letakkan ponselnya dan memandang kearah sofa yang di isi oleh Adel, terlihat cukup sibuk dengan laptop di hadapannya menyelesaikan pekerjaan yang tertunda.

“Adel...”

“Ya Nath?”

Tak perlu lama, Adel beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan kearah Nathalie.

“Lo butuh apa?”

“Pengen jalan-jalan. Cari angin di rooftop yuk...”

“Mau pakai kursi roda?”

“Engga, gue bisa jalan..”

Adel pun membantu Nathalie turun dari tempat tidur, lalu menuntun pelan langkahnya. Ruang rawat inap Nathalie kebetulan di lantai atas sehingga memudahkan untuk mengakses rooftop lebih cepat.

“Nico dimana? Kok gak sama lo?” Tanya Nathalie sebelum akhirnya sampai di atas.

“Balik apartemen dulu, mau mandi katanya. Ntar balik sini lagi.”

“Ooh...”

Setelah mereka sampai di atas, angin yang bertiup sangat kencang. Rambut Nathalie yang terurai pun kian acak menutupi semburat wajah sayu.

“Del, dingin...” Ucapnya sambil mengusap lengan dengan kedua tangannya.

“Ya udah masuk aja yuk...”

“Tapi gue pengen disini dulu bentar, bisa tolong ambilin sweater gue?” Pinta Nathalie.

“Lo gapapa gue tinggal bentar?”

“Gue mau duduk disana..” Sambil menunjuk kearah kursi panjang yang tak jauh dari mereka berdiri.

“Ok.”

Tanpa pikir panjang Adel kembali ke kamar inap untuk mengambil baju hangat yang di minta oleh Nathalie. Langkahnya pun semakin cepat agar Nathalie tak menunggu lama.

Menit kemudian sebelum Adel masuk ke dalam ruang rawat inap, seorang laki-laki tampan berbadan tegap menghampirinya dengan nafas yang sedikit tersengal akibat berlari dari arah lift yang terletak agak jauh dari ruang tersebut.

“Dimana Nathalie???”

Dengan sedikit kasar Jeremy menarik lengan Adel hingga gadis itu memicingkan dua matanya akibat ulah Jeremy yang membuatnya kaget.

“Lo siapa?” Tanya Adel, sedikit ketus juga rasa curiganya terhadap lelaki yang saat ini berdiri dihadapannya itu mungkin Jeremy, pikirnya.

“Gue Jeremy. Dimana Nathalie?”

“Ada di rooftop..”

Jeremy pun mengambil langkah seribu tanpa menghiraukan gadis yang baru saja ia ajak bicara, langkahnya menuntun ke luar agar bisa secepatnya bertemu dengan Nathalie.

Sesampainya diatas, dua bola matanya menelisik seluruh area namun Nathalie tak ada disana. Kursi yang harusnya jadi tempat Nathalie menunggu pun kosong. Jeremy terus mencari di sekitar dan di temukannya sosok perempuan sedang memanjat pembatas diatas gedung. Entah apa yang di pikirkan Nathalie saat itu, mungkin mengakhiri hidupnya adalah jalan yang terbaik.

“Nath!!”

Suara lantang terdengar keras hingga gadis yang bersusah payah berusaha memanjat itupun menoleh kearah sumber suara. Jelas ia sangat mengenali suara tersebut, suara sosok lelaki yang sudah menemaninya selama lima tahun terakhir.

“Nath!! Turun..”

Gadis itu tak menjawab, ia malah menangis.

“Jeremy... Maaf...”

“Nath, kamu gak salah, kenapa minta maaf? Turun Nath, aku disini sekarang!!”

Jeremy perlahan melangkah dan mendekati Nathalie.

“Jer! Aku capek hidup, apa yang aku harapkan sekarang?? Kamu? Anak kita??? Satu-satunya harapanku untuk tetap kuat pun ninggalin aku!!! Semuanya udah selesai Jer!!!”

Nathalie memekik cukup keras, membuat lelaki itu panik. Ia melangkah perlahan mendekati Nathalie.

“Nath... Waktu memang gak akan bisa mengembalikan ke tempat semula, tapi please.. Gak kya gini caranya..”

Jeremy terus berjalan kearah Nathalie pelan-pelan sambil mengulurkan tangannya.

“Nath, kamu harus kuat.. Kalau kamu berpikir untuk mengakhiri hidup, anak kita gak akan tenang di surga. Dia sedih melihat mama-nya gak mampu bertahan...”

Kalimat terakhir yang terlontar dari bibir Jeremy cukup membuat Nathalie luluh. Ia terus menangis jika ingat calon bayinya tak bisa bertahan lebih lama. Ia merasa gagal menjadi seorang perempuan, gagal menjadi calon ibu. Dirinya benar-benar hancur dan rapuh.

Langkah Jeremy kian mendekat hingga berada di bawah Nathalie, tangannya meraih telapak tangan gadis itu dan akhirnya pertahanannya pun tumbang. Tubuh lemas itu ambruk ke pelukan Jeremy.

“Nathalie... Ikhlaskan yang udah pergi, kamu harus yakin anak kita tenang di surga...” Ucap Jeremy memeluk erat tubuh Nathalie yang terasa dingin. Ia mengusap lembut surai milik gadis itu dan mengecupnya berulang kali.

Pemandangan bak sebuah drama itupun di saksikan oleh Jovan dan Adel yang sudah berdiri di belakangnya beberapa menit yang lalu.

Sedikit tersulut karena melihat Jeremy memeluk Nathalie terlalu lama, Jovan mengepalkan tangan kanannya seakan-akan hendak melepaskan bogem mentah kearah Jeremy namun ia urungkan niatnya karena Nathalie berada di sana.

Adel yang paham akan situasi inipun segera menarik legan Jovan agar tak bergerak kemanapun. Kemudian menghampiri Jeremy dan Nathalie.

“Nath, bangun yuk.. Balik ke kamar, disini dingin banget.” Pinta Adel sambil mengangkat tubuh Nathalie perlahan di bantu oleh Jeremy. Gadis itu lalu mengikuti kemana Adel membawanya. Sedangkan Jeremy mengekor di belakang keduanya sebelum akhirnya berhenti di hadapan Jovan, lalu menepuk pundaknya dan berkata,

“Tolong jaga Nathalie...” Kemudian Jeremy pergi meninggalkan tempat tersebut.