Let Me Alone

Panggilan telepon dari Jeremy sempat membuatnya ragu untuk menerimanya. Namun hati tak bisa di bohongi, sesungguhnya gadis itu sangat merindukan Jeremy. Ia bergerak pelan beranjak dari tempat tidur dan berjalan perlahan menjauh dari kamarnya, Nathalie tak ingin membangunkan Adel yang tidur di sebelahnya.

Gadis itu berjalan tanpa menggunakan alas kaki, mengendap pelan sampai tak terdengar suara langkahnya lalu duduk di ruang tengah dan menerima panggilan tersebut.

Nathalie: Ha-Hallo....

Jeremy: Nath, belum tidur?

Nathalie: Belum Jer, ada apa?

Jeremy: Pengen ngobrol...

Nathalie: Ooh....

Jeremy: Nath....

Nathalie: Hmm....

Jeremy: Maafin aku ya?

Nathalie: Kenapa minta maaf?

Jeremy: Aku udah nyakitin kamu Nath... Aku gak pernah mikir resiko, aku cu-

Nathalie: Jeremy, please... Mungkin udah jalannya kya gini. Udah lah, gak perlu minta maaf.

Jeremy: Tapi Nath-

Nathalie: Jer, aku juga salah disini, dari awal gak jujur sama kamu. Aku kacau banget waktu itu sampai gak bisa mikir apa-apa.. Tapi sekarang aku harus ikhlas Jer, apapun itu.

Jeremy: Nath, jujur sampai sekarang aku masih sayang sama kamu. Lima tahun itu bukan waktu yang singkat, untuk kita saling mengisi, belajar untuk saling memahami. Kita ketawa bareng, sedih bareng, dan kya nya gak ada masalah yang gak bisa kita selesein. Tapi gak tau kenapa masalah yang sekarang gak ada titik temunya. Aku egois, gak mikirin kamu, gak mikirin gimana perasaan mu.-

Nathalie: Jer... I also have an mistake... I'm so sorry... Waktu kita break, aku juga egois. Aku sempat dekat sama Jovan tapi... Tapi Jovan, he's not you. Aku gak bisa ngelupain kamu walaupun sama Jovan.

Gadis itu beranjak dari duduknya, ia lirik jam dinding menunjukkan pukul 01:45 kemudian ia berjalan menuju pintu untuk dan keluar. Entah apa yang di pikirkan Nathalie, hatinya cukup kalut. Ia pun tak mengerti pembicaraan ini akan membawanya kemana, sangat sulit di ungkapan. Rasa bersalah yang bercampur dengan rasa sakit, ia merasa akan ada sesuatu yang hilang. Lagi...

Jeremy: Nath, kalau aku bilang gak apa-apa, atau baik-baik aja itu jelas bohong. Tapi... Mungkin yang terbaik adalah berhenti mengganggu kehidupanmu lagi. Udah cukup aku bikin kamu sakit. Aku gak mau egois, maafin kesalahan ku kemarin...

Nathalie pun keluar dari unit apartemen nya, lorong sudah sangat sepi dan tak ada satupun manusia yang terlihat. Beberapa langkah dari depan pintu, ia sandarkan tubuhnya pada dinding lalu menengadahkan kepalanya menatap langit sambil menahan air mata yang hampir saja menetes.

Nathalie: It's oke Jer....

Air mata Nathalie tak terbendung lagi, ia benar-benar kalah sekarang. Orang-orang yang di cintainya satu persatu pergi meninggalkannya sendiri. Belum juga sembuh raganya kini jiwa semakin rapuh dan pilu.

Jeremy: Maafin aku Nath, aku harap kamu baik-baik aja. Mungkin kita udah gak bisa sama-sama lagi tapi kalau kamu butuh sesuatu, apapun itu, tolong... Jangan pernah sungkan untuk bilang ke aku, hubungi aku...

Nathalie: Ya.....

Suaranya bergetar hampir ia tak bisa membalas percakapan dengan Jeremy. Ia memutus sambungan telepon tersebut lalu menangis sejadi-jadinya. Ia merasa hidupnya sia-sia, malam ini Nathalie benar-benar sendiri tanpa orang tua, juga sosok Jeremy. Bagian terberat dari sebuah perjalanan adalah perpisahan.

Nathalie tak menyadari bahwa Jovan sedang memperhatikannya.

Sekitar tigapuluh menit yang lalu Jovan berusaha menelepon Nathalie namun sedang berada di panggilan lain. Lelaki itu ingin tau dengan siapa Nathalie berbicara di telepon pada jam tengah malam. Kepalanya di penuhi rasa penasaran, Jovan nekat ingin menemui Nathalie namun belum sampai pada unit apartemen milik Nathalie, baru tiga langkah dari depan pintu lift ia melihat gadis itu menangis sesenggukan duduk bersimpuh dengan dua tangan yang menegangi kepalanya.

Langkah kakinya terhenti, ingin rasanya Jovan menghampiri Nathalie dan menenangkannya namun, ia masih ingat dengan pesan singkat dari Nathalie bahwa ia sedang ingin sendiri membuat Jovan mengurungkan niatnya. Ia hanya bisa memandangi Nathalie dari jarak yang tak begitu jauh.

Sedangkan di sudut lain, seseorang tak sengaja melihat Jovan dari jarak tak terlampau jauh. Sosok tersebut memperhatikan Jovan yang sedang menatap Nathalie. Dengan batin yang sedikit kesal lalu ia meninggalkan tempat tersebut.


Biar bagaimanapun tidak ada yang akan baik-baik saja tentang sebuah perpisahan.

END

© @deorphic.