Broke my heart
“Nath, yok makan.. Katanya mau beli bakso..” Nico membuka pintu ruang kerja Nathalie, di hampiri gadis yang sedang sibuk di depan layar laptopnya.
“Hmm..”
“Yuk...” Nathalie pun beranjak dari duduknya sambil merapikan rok yang sedikit terangkat. Berjalan keluar ruangan di belakangnya ada Nico yang mengekor.
Sebelum dua sahabat ini masuk kedalam lift untuk turun ke lantai dasar, Nico yang lupa membawa dompet meminta Nathalie untuk mampir ke ruangannya terlebih dahulu.
Ia tekan tombol angka tiga untuk mengantarkan ke ruangan Nico namun sangat kebetulan lift tersebut sangat sibuk di bawah sana.
“Lewat tangga aja yuk Nic, lama..”
“Gapapa?” Tanya Nico memastikan.
“Mm.. Yuk..” Ajak Nathalie sembari menarik tangan Nico.
Lelaki itu berjalan terlebih dahulu kemudian di susul di belakangnya oleh Nathalie menuruni tangga. Baru sampai setengah jalan, gadis itu ingat dia lupa membawa ponselnya. oh, handphone gue!? ucapnya dalam hati.
“Nic, tunggu bentar handphone gue ketinggalan. Lo ambil dompet dulu, gue nyusul.” Ujarnya lalu setengah berlari menaiki tangga.
tuk tuk tuk...
“Nath, jangan la-”
“AHH!!”
bukk......
Tubuh kecil Nathalie terpelanting jatuh setelah kakinya terkilir saat menaiki tangga. Pantas saja, ia masih menggunakan sepatu heels yang biasa ia kenakalan pada saat bekerja sebelum hamil. Juga tak terpikir oleh Nathalie bahwa sepatu tersebut malah membawa petaka.
Nico panik dengan posisi Nathalie yang jatuh dari lima anak tangga diatasnya. Tubuh gadis itu ambruk, ia tidak pingsan bahkan ia bisa kembali bangkit dan duduk dengan kedua tangannya menopang tubuh yang cukup lemas itu.
“Nath, baru gue mau bilang jangan lari. Gimana sih!? Lo gak ati-ati banget!” Maki Nico karena ia seperti punya tanggung jawab atas Nathalie sebab Jovan yang tak sedang bersamanya saat itu.
“Bisa berdiri gak?”
“Nic...” Nathalie merintih sambil memegangi perut bawahnya. Rasa sakit yang luar biasa tak bisa ia tahan hingga raut wajahnya memerah.
“Nath, sakit banget?”
Gadis itu hanya mengangguk saja, dan sesekali memejamkan matanya.
“Ke rumah sakit ya? Bentar gue telepon Jovan dulu..”
Nathalie menarik lengan Nico saat lelaki tersebut hendak merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel.
“Jangan telepon Jovan, ganggu dia meeting.. Adel aja bisa? Buat temenin gue?” Pinta Nathalie.
“Adel?”
Nathalie mengangguk.
“Oke, nanti gue telepon dia kalo udah di mobil.”
“Gue bantu berdiri yaa..”
Nico lalu merangkul tubuh Nathalie untuk membantunya berdiri, sangat pelan dan tangan gadis itu masih memegangi perut bawahnya yang terasa sakit. Dan dari sela paha gadis itu mengucur darah segar hingga membasahi rok juga kakinya.
“Nic, darah..”
“Nath, kita harus cepat ke rumah sakit. Lo pegangan, gue gendong biar cepet.” Pinta Nico, lalu menggendong Nathalie menuruni tangga dan menggunakan lift di lantai tiga.
Nico tak memperdulikan dompet yang tertinggal, ia hanya ingin cepat-cepat keluar dari kantor dan sesegera mungkin sampai di rumah sakit.
Sesampainya di lobi, Nico berjalan cepat dan menghindari sedikit kerumunan disana karena pada saat jam makan siang, karyawan akan berlalu lalang keluar masuk kantor melewati lobi. Semua mata yang berada disana tertuju pada sosok Nico dan Nathalie. Di bantu satu security yang berada di depan pintu masuk untuk menyiapkan mobil milik Nico yang terparkir persis di depan gedung.
“Nath, tahan bentar ya.. Gue ngebut..”
Nico pun tancap gas secepat mungkin mengantarkan Nathalie ke rumah sakit HealthyCare, dimana ia memeriksakan kandungan pertama kali.
tut.. tut....
Adel: Hallo Nic.... Nico: Yangg.. Tolong ke kantor bentar ambil handphone sama tas Nathalie.. Adel: HAHH?? Ngapain?? Nico: Buruuu.. Bawa ke rumah sakit HealthyCare! Adel: Ya Tuhan!! Nathalie kenapa Nic? Nico: Nanti gue jelasin, buruan sekarang! Adel: OK!
Nico menutup sambungan telepon dan kembali fokus pada jalanan yang cukup ramai.
Tubuh Nathalie terkulai lemas dengan darah yang masih mengucur di bawah sana, melalui UGD gadis itu kemudian di tangani oleh dokter spesialis kandungan.
Nathalie hanya bisa pasrah dengan keadaan. Ia sangat menyayangkan kecerobohannya mengenakan heels membuat ia harus kehilangan calon buah hatinya.
Nathalie terus menangis, sakit dan hancur seakan bumi runtuh di hadapannya. Bagaimana tidak, hidupnya tak pernah jauh-jauh dari rasa sakit dan air mata. Setelah kehilangan kedua orang tuanya sekitar delapan tahun silam, ia kehilangan Jeremy yang akan segera menikah dengan perempuan pilihan orang tuanya. Belum sembuh benar luka hati pun ia harus kehilangan bakal calon bayi yang di kandungnya.
Pernah tersirat di pikiran Nathalie saat ia tau ada janin di dalam rahimnya, meskipun ia tak bisa memiliki Jeremy utuh. Setidaknya janin yang tumbuh di rahimnya adalah kenangan manis dan kebahagiaan selama bersama Jeremy. Akan terus menguatkan dirinya agar tetap bertahan walaupun ia sendirian.
“Dewa.. Keadaan Nathalie gimana?” Tanya Adel pada dr. Dewa yang notabene adalah temannya sendiri.
“Obat biusnya belum ilang. Biarin dia istirahat dulu.. Di dalem tadi dia histeris setelah tau kalau keguguran. Sedangkan dia harus Kuretase jadi gue suntik bius biar dia lebih tenang...”
“Ohh... Thank you ya Wa..”
“Siap, ntar kalau ada apa-apa, telepon gue ya?”
“Pasti...” Jawab Adel mengakhiri perbincangan mereka.
Adel dan Nico setia menunggu Nathalie di kamar pasien, sedangkan gadis itu masih dalam pengaruh obat bius.